SUARA NEGERI | TEHERAN — Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah memperingatkan Amerika Serikat, bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan mengakibatkan "perang regional" seiring dengan Presiden AS Donald Trump yang mengumpulkan kekuatan militer di Timur Tengah.
"Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional," kata pemimpin tertinggi berusia 86 tahun itu, yang telah memegang kekuasaan absolut selama 37 tahun, dalam sebuah acara di pusat kota Teheran pada hari Minggu (1/2).
Ia berbicara di hadapan para pendukungnya yang berkumpul untuk memperingati ulang tahun kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini ke Iran dari pengasingan di Prancis pada tahun 1979, yang menyebabkan Revolusi Iran dan pelarian penguasa yang didukung AS, Mohammad Reza Shah Pahlavi.
Khamenei mengatakan AS ingin "menelan" Iran dan sumber daya minyak dan gas alamnya yang melimpah, menambahkan bahwa apa yang terjadi selama protes anti-pemerintah baru-baru ini "mirip dengan kudeta" karena sejumlah besar kantor pemerintah, bank, dan masjid diserbu.
Pemimpin tertinggi Iran itu menggambarkan, kerusuhan mematikan itu sebagai "pemberontakan" lain, istilah yang sebelumnya ia gunakan untuk Gerakan Hijau 2009 dan protes serupa lainnya.
"Pemberontakan baru-baru ini mirip dengan kudeta. Tentu saja, kudeta itu telah ditumpas," kata Khamenei.
"Tujuan mereka adalah untuk menghancurkan pusat-pusat penting dan efektif yang terlibat dalam menjalankan negara, dan karena alasan ini, mereka menyerang polisi, pusat-pusat pemerintahan, fasilitas [Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC], bank, dan masjid serta membakar salinan Al-Quran," kata Ali Khamenei.
Menanggapi pidato Khamenei, Trump mengatakan dia berharap Iran akan menyetujui kesepakatan tersebut.
Ketika ditanya tentang peringatan pemimpin tertinggi Iran, Trump mengatakan kepada wartawan: “Tentu saja dia akan mengatakan itu.
"Semoga kita akan mencapai kesepakatan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, maka kita akan mengetahui apakah dia benar atau tidak," pungkasnya. (Jeane Patikawa/foto:AFP)


