SUARA NEGERI | BUOL — Nelayan Asal Buol RT 32 / RW 08 lingkungan Poyapi menemukan 17 WNA Asal Filipina terombang- ambing selama 13 hari diwilayah pesisir buol pada kamis, tanggal 22 Januari 2026 sekira pukul 8 pagi.
Informasi awal tentang adanya kapal tersebut bermula dari laporan seorang warga bernama Muhammad Rusman (Cici), saat itu ia bersama rekan-rekannya sedang berkeliling mencari ikan di rakit-rakit dan melihat sebuah perahu yang terombang-ambing sekitar 72 mil laut dari Dermaga Tambatan Perahu Poyapi.
Perahu korban kemudian diikat dan ditarik menuju daratan. Mereka tiba di Dermaga Poyapi sekitar pukul 18.06 WITA.
Setibanya di darat, kabar penemuan korban dengan cepat menyebar. Seluruh unsur terkait langsung menuju lokasi. Para korban sementara diamankan di rumah Saprudin, Tombea Lautan Tuna, di mana warga sekitar secara sukarela memberikan pakaian, makanan, dan kebutuhan lainnya
Mendapatkan informasi tersebut Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kab Buol langsung mendatangai lokasi yang dilaporkan oleh nelayan dengan melihat kondisi ke 15 WNA asal Filipina tersebut dan langsung dilarikan ke RSUD Mokoyulri Kabupaten Buol untuk dilakukan perawatan medis dan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut PSDKP Kab Buol, Bambang menyampaikan informasi tersebut ke Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Sulteng dengan menjelaskan kronologi kejadian hasil wawancara ke 17 WNA Asal Filipina tersebut yang terdiri dari 9 orang dewasa dan 8 orang anak-anak.
Bambang melaporkan dari hasil wawancara kejadian berawal pada tanggal 9 januari 2026 sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat dengan estimasi waktu tempuh 8 jam, perahu dengan muatan 17 orang WNI asal Filipna dengan menggunakan mesin tempel 40 PK bergerak keluar dari Sampurna/Sabah /Malaysia menuju Tawi-Tawi Filipina.
Sekitar pukul 10.00 perahu mereka terhantam kayu sehingga menyebabkan kebocoran. Pada saat kejadian tersebut 2 orang (laki-laki) dari mereka pergi meninggalkan untuk mencari pertolongan dan hingga saat ini belum ditemukan.
Peristiwa ini dialami oleh satu keluarga besar yang dipimpin oleh Pak Bandir, berjumlah 17 orang, terdiri dari 9 orang dewasa dan 8 anak-anak serta balita, termasuk seorang bayi berusia 6 bulan.
Dalam wawancara dengan Pak Bandir, ia menjelaskan bahwa perjalanan laut tersebut bermula dari Sempurna, Sabah, Malaysia, dengan tujuan menuju Filipina (Tawi-Tawi) untuk menghadiri hajatan keluarga. Mereka berangkat sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat, dengan estimasi perjalanan laut hanya sekitar 8 jam.
Namun, pada hari kedua pelayaran, perahu yang mereka tumpangi dihantam gelombang tinggi dan cuaca buruk di sekitar perairan Pulau Tawi-Tawi.
Perahu mulai oleng dan kemasukan air, memaksa seluruh penumpang membuang semua barang bawaan ke laut, termasuk mesin perahu, demi mengurangi beban agar tidak tenggelam.
Dalam kondisi darurat tersebut, salah satu anak Pak Bandir, seorang laki-laki berusia 27 tahun, nekat melompat ke laut dengan berpegangan pada sebuah jerigen.
Aksi ini kemudian diikuti oleh suami dari Ibu Lisa, yang juga melompat dan berpegangan pada jerigen yang sama untuk menyelamatkan diri menuju daratan, yang masih berada di wilayah Malaysia.
Dengan hanya bermodalkan penutup ember yang dijadikan dayung, Pak Bandir bersama 15 anggota keluarga lainnya pasrah mengikuti arah angin dan arus laut.
Selama 13 hari terombang-ambing di tengah laut, mereka bertahan hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Hanya dua kali mereka berhasil menampung air hujan untuk minum.
Bekal berupa biskuit yang sangat terbatas harus dibagi secara merata satu biskuit dibelah dua untuk setiap orang.
Memasuki hari kedelapan, stok makanan benar-benar habis. Sisa air hujan semakin menipis, sementara perahu terus kemasukan air sehingga harus terus dikeluarkan secara manual (limas). Anak-anak, termasuk balita berusia enam bulan, menangis tanpa henti akibat kehausan dan kelaparan. Selama lima hari, mereka tidak makan dan minum.
Dalam kondisi nyaris putus asa, Pak Bandir dan keluarganya hanya bisa berserah diri dan berdoa kepada Allah SWT.
Doa tersebut akhirnya terjawab. Pada hari ke-13 di laut, mereka melihat sebuah kapal melintas. Dengan sisa tenaga yang ada, Pak Bandir berteriak sekuat tenaga dan melambaikan tangan meminta pertolongan.
Sementara Kabid Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng, Agus Sudaryanto saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut dan menerima laporan dari personil PSDKP Diskan Buol dan melanjutkan laporan tersebut kepada Pimpinan DKP Provinsi Sulteng.
"Malam ini juga, Pak Kadis DKP Sulteng langsung memberikan arahan untuk memantau kondisi para korban di RSUD Buol serta berkoordinasi dengan Diskan Buol untuk langkah penanganan selanjutnya," ujarnya, Kamis (22/1/2026)
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulteng memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada nelayan asal Poyapi Kabupaten Buol dan unsur terkait saat melakukan proses evakuasi penyelamatan kepada 17 WNA asal Filipina.
"DKP Prop Sulteng, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Muhammad Rusman (Cici) nelayan asal Poyapi, Buol yang telah menolong proses evakuasi penyelamatan para korban sehingga para korban selamat semuanya. Dan kepada seluruh elemen yg terlibat dalam penanganan korban, diucapkan terima kasih atas kerja serta upaya kemanusiaan yang telah dilakukan," tuturnya.(Dhankz)




