(2) Riwayat Jurnalistikku dari Masa ke Masa

SuaraNegeri.com
14 Desember 2023 | 18:47 WIB Last Updated 2023-12-14T11:47:50Z

TENTANG BANG ALWI KARMENA DAN INYIK NASRUL SIDDIK

(Riwayat kebersamaan tak terlupa)

Catatan:  Pinto Janir

Bang Alwi Karmena, abang yang hebat. Sosok yang unik. Baik. Pagarah. Peduli. Ia ' mitra' jurnalistik saya selama belasan tahun. Ia pemotivator utama dalam hidup saya. 

Tak bisa saya memungkiri itu. Narasi kami tiap hari selalu beda. Saya dan Bang Alwi pernah bikin hati Inyik terhiba, ketika kami berdua meninggalkan Mingguan Canang untuk mendirikan Mingguan Rancang--sebuah Mingguan super heboh. Rancang menjelma dengan sebutan " koran hantu". 

Kami mendirikan Rancang persis ketika SIUPP dihapus Pemerintah. Untuk mendirikan surat kabar, cukup berbadan hukum PT dan memiliki modal yang cukup untuk mencetak surat kabar. 
----
Tapi sebelumnya, mari kita berkisah dulu... 

Kawan Bang Alwi, pasti kawan saya.Kawan kawan saya, pasti kawannya Bang Alwi. Kami orang orang tanpa musuh!

Saudara dan dunsanak Bang Alwi, pasti sudah saya anggap saudara sendiri. Begitu juga sebaliknya. Nyaris semua kelurga dan dunsanak saya mengenal Bang Alwi. 

Kakak dan adik saya, ibu dan papa saya, menganggap Bang Alwi bagai saudara sendiri. Kalau ada Bang Alwi Karmena, suasana pasti heboh dan riang gembira. 

Oleh keluarga masing masing, kami memang dianggap " pelawak". Kalau kami sudah berjalan berdua, tak dapat diagak . 

Sori, jangan baper. Nan lain seperti angin, nan kami seperti badai! 

Hahahaha... 

Bang Alwi yang selalu riang gembira, adalah kebahagiaan bagi kita semua. 

Saya mengenal Bang Alwi di penghujung tahun 1988. Ketika usia saya sekitar 19 tahun memasuki 20 tahun. 

Kami bertemu di rumah Inyik Nasrul Siddik, pemimpin umum/redaksi Mingguan Canang. Inyik, salah seorang pendiri Harian Singgalang. Sebelumnya, saya di Harian Semangat Padang. 

Saya yang remaja penulis lepas itu telah memulai menulis di Semangat sejak tahun 1982. Sejak SMP sampai SMA. Tamat SMA, langsung jadi Redaktur di Mingguan Canang. 

Yang mereferensikan dan merekomendasikan saya ke Inyik Nasrul Siddik ( pemimpin umum /redaksi Canang) adalah Pak Effendi Koesnar dan Pak Roesli Syaridin. Dua senior wartawan yang melegenda di Ranah Minang. 

Sementara, yang mengenalkan saya ke Bang Alwi Karmena adalah Inyik Nasrul Siddik, tokoh pers nasional yang menerima beberapa kali penghargaan dari PWI Pusat dan pernah menjadi anggota Dewan Pers. 

Susunan redaksional Mingguan Canang, pemimpin umum dan pemrednya Inyik Nasrul Siddik. Redaktur Pelaksana Yoerman Dahwat. 

Kepada Yoerman Dahwat, saya berpak Man. Pak Man, bukan saja mengurus berita. Tapi juga mengurus perusahaan. Kelak, nyaris saya tiap hari " ngebon" Rp 10.000.

 Sebagai perbandingan, masa itu sebungkus Rokok Gudang Garam Surya, Rp 1.600. Sekarang sekitar, Rp 20 ribuan. 

Selain menggawangi halaman 
" sekolahan " (dSkS) saya juga mendapat kerja tambahan dari Pak Man, yakni mengedit bahkan merewrite ( menulis ulang) berita berita kiriman koresponden menjadi pola penulisan " ala Canang" yang kental beraroma feature. 

Dalam perjalanan waktu, Pak Man juga sudah seperti saudara kandung saya. Canang memang terbangun dengan semangat kekeluargaan yang amat kuat . 

Redaktur di Mingguan Canang ada 5 orang. Yakni:  Alwi Karmena, Harris Effendi Thahar, Jayusdi Effendi, Eddy Pranata PNP dan Pinto Janir. Di antara, saya yang termuda. Ya, baru akan berusia 20 tahun. 

Empat dari 5 Redaktur Canang adalah sastrawan dan penyair. 

Inyik yang sering menugaskan kami, saya dan Bang Alwi, untuk mengungkap berita berita yang membutuhkan investigasi khusus . Terutama dalam gaya kepenulisan jurnalisme sastra dan feature ' gaya kami'. 

Canang , koran mingguan. Mana mungkin bermain di berita straight news. Kalau jenis berita ini kita perturutkan, digilas kami oleh koran harian. 

Kata Inyik, kita adalah surat kabar mingguan. Bukan surat kabar seperti berita Harian yang terbit sekali seminggu. Bukan begitu. 

Makanya, Canang terkenal dengan branding " Dibali ciek, kanyang sapa kan". 

Canang itu koran bermuatan politik, hukum, pendidikan , hiburan dan budaya. Namun sebagian besar, sarat dengan berita  kriminalitas dan tindak pidana korupsi. 

Canang, mingguan yang tajam dan berani di masa itu. Masa masa Orba, di mana kebebasan pers tidak seperti sekarang ini. Mendirikan surat kabar pun tidak mudah. Harus pakai Surat Izin Usaha Penerbitan Pers. 

Di bawah SIUPP, ada SIT ( Surat Izin Terbit) dikeluarkan pemerintah melalui Deppen ( Departemen Penerangan). 

Berpitih berlindak pun kita, bermodal banyak pun kita, belum tentu akan mendapatkan SIUPP sebagai syarat utama mendirikan surat kabar. 

Mengapa Inyik memperoleh SIUPP? Konon, Inyik memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Menteri Penerangan Harmoko. 

Saya membaca sejarah jurnalistik lokal di Sumbar. Inyik pernah menjadi Ketua PWI Sumbar. Juga pernah menjadi anggota DPRD Sumbar. 

Semasa jadi Ketua PWI Sumbar, HPN yang dipusatkan di Padang, berlangsung sangat sukses. 

Inyik Nasrul Siddik, bukan wartawan biasa. Beliau wartawan bersentuhan sastra. Inyik wartawan yang sastrawan. Beliau, pengarang.

 Cerita cerita Minang beliau di Harian Singgalang sangat fenomenal. Kalau saya tak salah, salah satu karya Inyik berjudul: Sapu Tangan Sirah Baragi. 

Kata budayawan Bagindo Fahmi, Inyik itu " Profesor Koran". Apa apa yang ia buat dan ia tuliskan pasti laku. Pasti jadi topik. Tak jarang, jadi referensi bagi pengambil keputusan. 

Di Canang, Inyik menggawangi rubrik Pati Kato yang merupakan tajuk yang tajam, kritis dan cerdas. 

Saya masih ingat kata Inyik: " Wartawan itu seperti matahari. Ia bersinar untuk menerangi, bukan untuk memanggang atau membakari". 

Suatu hari, Inyik marah. " Apo berita ko, Man ( maksudnya Yoerman Dahwat)", kata Inyik dengan suara gusar sambil menunjuk sebuah berita kira kira, kalau saya tidak lupa, berjudul : " Oknum Ustadz Cabuli Anak di Bawah Umur". 

Pak Man memandang ke arah saya secara spontan. Saya memandang lantai. Menunduk. 

" Ambo indak suko berita model iko doh. Manga awak pulo nan sato sato mamburuak an agamo surang. Manga harus oknum ustadz nyo lo nan ditonjolkan. Manga harus oknum Pak Haji e bana nan disabuik sabuik", Inyik marah. 

Pak Man hanya diam. Padahal yang mengolah berita itu adalah saya. Tapi, Pak Man tidak pernah melampiaskan kesalahan pada saya. 

" Bukan tidak mungkin, oknum di agama lain juga ada seperti ini. Tapi apakah pernah kita mendengar terungkap ke ruang publik. Tidak. Jan sampai, sandal hilang di musajik jadi berita gadang pulo! " ujar Inyik. 

Pak Man dan saya diam. Bahkan terdiam. Dari Inyik kami mendapatkan pelajaran yang luar biasa... 

Kemudian Inyik mananyoan ka Yurman . 

" Alwi kama Man? " kata Inyik agak mulai mereda marahnya. Kemudian Inyik beralih bertanya kepada saya: " Halaman Pinto alah salasai? ".

Saya mengangguk. Inyik merogoh saku: " iko untuak makan siang... ".

Saya lanjutkan bekerja memeriksa naskah berita kiriman koresponden dan surat Pos yang selalu menumpuk di keranjang meja kerja saya. 

Tak lama kemudian, Bang Alwi datang dengan gaya panggilan khasnya dan langsung menerobos ke ruang kerja Inyik Nasrul. 

" Halloooo...Da Nas.... " sapa Bang Alwi dalam nada khas. 

Biasanya, kalau Bang Alwi sudah tiba, air wajah Inyik langsung ceria.Pendapat saya, hanya Bang Alwi yang mampu "meredakan" Inyik. 

Bang Alwi jago bercerita. Jago menciptakan suasana. 

" Pinto tadi ma nyo, bung... " ujar Inyik ke Alwi. 

" Pinto.... Inyik mahimbau", kata Bang Alwi dengan gaya " spy" sambil mengisaratkan dengan sapuan kepala. ( Bersambung)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • (2) Riwayat Jurnalistikku dari Masa ke Masa

Trending Now

Iklan