-->
  • Jelajahi

    Copyright © SUARANEGERI.COM | BERITA SUARA NEGERI
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Satgas Pangan Polri Telusuri Langkanya Kedelai

    SuaraNegeri.com
    05 Januari 2021, 11:58 WIB Last Updated 2021-01-05T04:58:08Z
    Satgas Pangan Polri Telusuri Langkanya Kedelai

    SUARA NEGERI ■ Tahu dan tempe menjadi barang langka yang sulit ditemui dalam beberapa hari terakhir, penyebabnya karena stok kedelai yang menipis serta harganya mahal. Hal ini karena Indonesia masih ketergantungan kedelai impor, kedelai lokal kontribusinya masih minim.

    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan di dalam negeri, petani kedelai di Indonesia tak banyak memiliki minat besar untuk berkecimpung tanaman kedelai. Padahal, kebutuhan kedelai setiap tahunya makin bertambah. Ini karena masalah harga kedelai yang tak menarik bagi petani.

    Terkait langkanya kedelai di pasaran, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyelidiki dugaan penimbunan kedelai pasca kenaikan harga kedelai nasional.

    Bareksrim mengendus terjadinya dugaan penimbunan kedelai dan permainan harga oleh spekulan. Akibatnya, terjadi kelangkaan dan peningkatan harga signifikan.

    Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit bersama Kasatgas Pangan Polri Brigjen Helmy Santika menyatakan, sejauh ini telah melakukan pemeriksaan di sejumlah gudang importir dan distributor kedelai di wilayah Cikupa, Cengkareng dan Bekasi.

    "Satgas juga telah menginstruksikan satgas kewilayahan di tiap Polda untuk melakukan pengecekan harga, ketersediaan kedelai serta sentra-sentra pengolahan khususnya UMKM yang memproduksi tempe dan tahu," jelas Komjen Listyo Sigit, Selasa (5/1).

    Kasatgas Pangan Polri Brigjen Helmy Santika menambahkan, Polri telah memiliki data dan analisa ketersediaan serta kebutuhan kedelai secara nasional.

    "Kami telah koordinasi dengan Kementrian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan sejumlah pihak lain untuk menelusuri dugaan adanya penimbunan dan permainan harga kedelai yang melonjak sejak beberapa hari lalu," kata Helmy.

    Helmy juga menyebutkan bahwa perkembangan global di masa pandemik Covid-19 turut memengaruhi harga kedelai di pasar dunia.

    "Berdasarkan data FAO, pada Desember 2020 ada kenaikan harga kedelai di pasar global sebesar 6 persen dari harga awal 435 US dolar menjadi 461 US dolar per-ton," jelas Helmy.

    Diketahui, pada awal tahun 2021, harga kedelai mengalami kenaikan. Imbasnya, sejumlah perajin tahu tempe mogok produksi selama tiga hari. Pasokan tahu dan tempe menghilang di pasaran selama 1-3 Januari.

    Kenaikan harga kedelai didinilai membebani pengusaha. Kenaikan harga kedelai di kisaran angka Rp 9.000 dari semula sekitar Rp 7.000 per kilogram.

    Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengklaim telah menurunkan tim untuk mencari sumber masalah mogok produksi oleh produsen tahu tempe. Pemerintah menjanjikan pasokan kedelai akan segera stabil. (**)
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru