JAKARTA — Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 hadir di tengah tekanan berat bagi perekonomian nasional. Di saat semangat kebangkitan bangsa digaungkan, tekanan pasar justru terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar luar negeri, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,82 persen ke level 6.318 pada perdagangan Rabu pagi.
Di pasar domestik, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.747 per dolar AS, sedangkan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) atau offshore market, rupiah sempat menyentuh Rp17.797 per dolar AS, mencerminkan meningkatnya tekanan dari sentimen global dan ekspektasi pelemahan lanjutan.
Tekanan tersebut datang seiring penguatan dolar AS, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di atas USD110 per barel, serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arus modal keluar dari negara berkembang.
Di tengah situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) tetap menyampaikan optimisme bahwa stabilitas nilai tukar rupiah dapat kembali pulih dalam beberapa bulan ke depan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, pada Senin (18/5/2026), menyatakan BI masih optimistis target nilai tukar rupiah tahun ini tetap berada dalam rentang yang telah ditetapkan.
"BI masih optimis nilai tukar rupiah di tahun ini masih bisa mencapai rata-rata yang sudah ditargetkan yaitu Rp16.500 dengan rentang Rp16.200 sampai dengan Rp16.800," ujar Denny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.
Namun jika dibandingkan dengan posisi pasar saat ini, target tersebut menghadapi tantangan yang cukup besar.
Untuk mencapai level Rp16.800, rupiah perlu menguat sekitar Rp997 atau sekitar 5,6 persen dari posisi pasar offshore. Sementara untuk menyentuh level Rp16.200, diperlukan penguatan sekitar Rp1.597 atau hampir 9 persen.
Tekanan pasar juga tercermin dari ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Konsensus pasar memperkirakan BI akan mengambil langkah hawkish melalui kenaikan suku bunga acuan guna menahan pelemahan rupiah dan menjaga daya tarik aset domestik.
Secara teknikal, pasar melihat area Rp17.750 hingga Rp17.850 sebagai zona tekanan jangka pendek, sementara level Rp18.000 per dolar AS mulai menjadi batas psikologis yang dicermati pelaku pasar apabila tekanan eksternal terus berlanjut.
Dalam skenario optimistis, penguatan rupiah masih mungkin terjadi apabila intervensi BI berjalan efektif, cadangan devisa tetap solid, sentimen global membaik, serta tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.
Namun dalam skenario moderat yang dinilai lebih realistis, rupiah diperkirakan masih bergerak di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.800 per dolar AS dalam jangka pendek.
Jika tekanan global meningkat, seperti eskalasi konflik geopolitik, penguatan dolar AS yang lebih agresif, atau capital outflow yang membesar, rupiah berpotensi bergerak menuju Rp18.000 per dolar AS atau lebih.
Di tengah tantangan tersebut, arah kebijakan ekonomi nasional juga menjadi sorotan. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan langsung arah kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal pemerintah di hadapan DPR RI, sebuah langkah yang dinilai menunjukkan keterlibatan langsung kepala negara dalam penegasan arah ekonomi nasional.
Momentum ini menegaskan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya bergantung pada intervensi pasar keuangan, tetapi juga pada kepastian arah kebijakan nasional serta penguatan sektor riil.
Dari sawah, ladang, hingga desa-desa di seluruh Indonesia, para petani tetap menjadi garda terdepan menjaga ketahanan pangan nasional, menopang ekonomi rakyat, sekaligus memperkuat kedaulatan bangsa.
Di tangan petani Indonesia, semangat kebangkitan terus tumbuh di setiap musim tanam. Peningkatan produksi pangan, percepatan modernisasi pertanian, hingga dorongan menuju swasembada menjadi bagian penting dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh.
Pelemahan rupiah dan tekanan pasar saham menjadi pengingat bahwa kemandirian bangsa tidak hanya diuji oleh gejolak pasar global, tetapi juga oleh kemampuan memperkuat fondasi ekonomi domestik dari sektor pangan, industri, hingga kebijakan fiskal yang konsisten.
Hari Kebangkitan Nasional tahun ini menjadi refleksi bahwa kebangkitan sejati bukan hanya soal mengenang sejarah, tetapi juga keberanian menjaga kedaulatan ekonomi di tengah tekanan global. Saatnya bangkit bersama, menjaga tunas bangsa demi kedaulatan negara. (red)


