JAKARTA — Di tengah situasi global yang kian tidak menentu, satu hal yang sering luput dari perhatian publik kembali diangkat oleh Jan Prince Permata: ketahanan pangan Indonesia sejatinya tidak berdiri di ruang hampa.
Melalui tulisannya di Kompas.com Senin,30/3/2026. Jan prince mengurai keterkaitan erat antara geopolitik, energi, dan pangan, sebuah relasi yang kini makin terasa dampaknya, bahkan hingga ke meja makan masyarakat.
Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia, sekaligus pegiat di Yayasan Kekal Berdikari, Jan Prince Permata menegaskan bahwa cara pandang terhadap pangan tak lagi bisa semata domestik. Dunia telah berubah, dan pangan kini ikut terseret dalam arus besar kepentingan global.
> “Ketika konflik terjadi, yang terganggu bukan hanya politik. Energi dan logistik ikut terguncang. Dan Indonesia tidak berdiri sendiri, kita ikut merasakan dampaknya.”
Pernyataan itu bukan sekadar peringatan. Ia mencerminkan realitas yang tengah berlangsung. Konflik geopolitik, lonjakan harga energi, hingga gangguan rantai pasok global kini menjadi faktor yang langsung memengaruhi stabilitas pangan nasional.
Dalam konteks ini, energi muncul sebagai simpul krusial yang kerap diabaikan. Kenaikan harga energi tidak berhenti di sektor migas, tetapi menjalar ke seluruh rantai produksi pangan, dari pupuk, distribusi, hingga harga di tingkat konsumen.
> “Energi dan pangan itu tidak bisa dipisahkan. Ketika energi terganggu, pangan pasti ikut terdampak.”
Namun, tekanan global bukan satu-satunya persoalan. Jan juga menyoroti kerentanan dari dalam negeri, terutama ketergantungan pada impor komoditas strategis. Dalam situasi normal, ketergantungan ini mungkin tidak terasa. Tapi saat negara pemasok menahan ekspor, risiko langsung terbuka lebar.
> “Kalau negara pemasok menahan ekspor, kita tidak punya kendali. Di situlah krisis bisa dimulai.”
Di titik inilah, kritik utama Jan mengemuka. Ketahanan pangan, menurutnya, masih kerap dipahami secara sempit: selama pasokan tersedia hari ini, maka dianggap aman. Padahal, ukuran sesungguhnya adalah kemampuan bertahan saat krisis datang.
Istilah “ilusi ketahanan pangan” yang ia gunakan menjadi semacam tamparan halus, bahwa stabilitas yang terlihat belum tentu mencerminkan kekuatan yang sebenarnya.
Lebih jauh, Jan mendorong perubahan pendekatan kebijakan. Ia menilai, pemerintah perlu keluar dari pola pikir reaktif dan mulai membangun strategi yang terintegrasi, mengaitkan sektor pangan dengan dinamika energi dan geopolitik global secara utuh.
Pesan itu terasa konsisten, baik dalam tulisannya maupun dalam penjelasan yang ia sampaikan: tanpa pembenahan cara pandang, ketahanan pangan hanya akan menjadi narasi yang rapuh.
Pada akhirnya, isu ini bukan sekadar soal data produksi atau angka impor. Ia menyentuh hal paling mendasar dalam kehidupan: kepastian atas pangan itu sendiri.
Dan dari situ, pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari kembali muncul:
Apakah kita benar-benar siap, atau baru sekadar merasa siap? (*)


