Reaksi Publik yang Berbeda Terhadap Status ‘Open to Work’ LinkedIn Figur Publik

SuaraNegeri.com
Jumat, 06 Februari 2026 | 13:33 WIB Last Updated 2026-02-06T06:33:25Z

SUARA NEGERI | JAKARTA — Pada awal 2026, figur publik Prilly Latuconsina mengunggah status “Open to Work” di akun LinkedIn pribadinya yang menyatakan ketertarikannya untuk mengeksplorasi peluang kerja dan kolaborasi profesional di luar dunia hiburan. 

Unggahan tersebut dengan cepat viral dan memicu beragam reaksi publik, mulai dari dukungan hingga kritik negatif yang menilai status tersebut tidak sensitif terhadap realitas pencari kerja. 

Menyusul polemik yang berkembang, Prilly kemudian mengunggah video klarifikasi untuk menjelaskan maksud unggahan tersebut sekaligus merespons persepsi publik yang berkembang.

Seperti diketahui, pada tahun 2024, figur publik Anies Baswedan juga pernah membuat status “Open to Work” di akun LinkedIn pribadinya. Namun, respon masyarakat justru positif dan berbeda dengan yang Prilly Latuconsina hadapi.

Menurut Pemerhati Ketenagakerjaan Dani Satria, fenomena perbedaan respons publik terhadap status “Open to Work” LinkedIn yang dibuat Anies Baswedan (2024) dan Prilly Latuconsina (2026) dapat dijelaskan secara sosiologis. Perbedaan ini bukan sekadar soal individu, tetapi mencerminkan cara publik menilai simbol, posisi sosial dan narasi kekuasaan.

“Secara sosiologis, konteks sosial dan posisi simbolik sangat menentukan dalam kasus ini. Anies Baswedan menulis “Open to Work” setelah tidak lagi menjabat dan kalah dalam kontestasi politik nasional. Dalam konteks ini, status tersebut dibaca publik sebagai satire politik sekaligus refleksi realitas pasca-kekuasaan. Banyak masyarakat melihatnya sebagai humor cerdas, bentuk kerendahan hati, bahkan kritik halus terhadap sistem kerja dan meritokrasi. Anies dipersepsikan sedang “turun kelas” dari elite kekuasaan ke ruang profesional biasa. Ini menjadi sebuah narasi yang terasa manusiawi dan relatable,” kata Pemerhati Ketenagakerjaan Dani Satria, melalui siaran persnya di Kendal, Jawa Tengah, Jumat (06/02/2026).

Dani menambahkan, Prilly Latuconsina berada pada posisi sosial yang sangat berbeda. Prilly dikenal sebagai figur publik muda, sukses, mapan secara ekonomi dan memiliki akses luas terhadap pekerjaan. 

Ketika Prilly menulis “Open to Work”, sebagian masyarakat menilainya bukan sebagai refleksi realitas, melainkan simbol yang dianggap ‘tidak sensitif’. Dalam masyarakat dengan tingkat pengangguran dan ketidakpastian kerja yang tinggi, status tersebut dipersepsikan sebagai “tidak pada tempatnya”, bahkan dianggap performatif atau mencari atensi.

“Dalam kajian fenomena sosial, publik cenderung lebih empatik kepada figur yang dianggap “kehilangan” dibanding figur yang dianggap “berkelimpahan”. Anies diposisikan sebagai elite yang sedang berada dalam fase jeda dan transisi, sementara Prilly tetap dipersepsikan sebagai bagian dari kelas atas industri hiburan. Akibatnya, pesan yang sama diterima dengan kerangka emosi publik yang berbeda, yaitu satu ditertawakan dengan simpati, yang lain dikritik dengan kecemburuan sosial terselubung,” imbuh Dani.

Dani berpendapat, fenomena ini juga berkaitan dengan standar moral ganda terhadap figur publik perempuan. Figur publik perempuan kerap dibebani ekspektasi sosial yang lebih ketat, seperti harus peka, tidak “berlebihan” dan selalu sesuai dengan imajinasi publik tentang kesuksesan.

Selain itu, medium LinkedIn itu sendiri turut mempengaruhi persepsi. LinkedIn di Indonesia masih dipahami sebagai ruang “serius” bagi pencari kerja yang benar-benar membutuhkan. Ketika figur dengan privilese tinggi menggunakan simbol yang sama, publik merasa terjadi “pembajakan simbol penderitaan kelas pekerja”. Pada Anies, simbol itu dibaca publik sebagai humor politik, sedangkan pada Prilly, dibaca sebagai pelanggaran etika simbolik. (*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Reaksi Publik yang Berbeda Terhadap Status ‘Open to Work’ LinkedIn Figur Publik

Trending Now

Iklan