SUARA NEGERI | JAKARTA — Rapat Pleno Dewan Eksekutif Nahdlatul Ulama (PBNU) yang digelar Kamis (29 Januari) menghasilkan kesepakatan untuk mengembalikan kepemimpinan PBNU ke keadaan sebelum konflik internal muncul.
KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dalam rapat pleno tersebut.
Permintaan maaf tersebut diterima oleh seluruh peserta rapat.
Rapat kemudian menyetujui kembalinya KH Yahya Cholil Staquf ke posisi Ketua Umum PBNU.
Dengan keputusan ini, seluruh struktur kepemimpinan PBNU dikembalikan ke tingkat sebelum konflik.
Sebelumnya, Rais Aam Nahdlatul Ulama (NU), KH Miftachul Akhyar, memberhentikan Yahya Cholil Staquf dan menyatakan bahwa ia akan memimpin Kongres NU ke-35 pada tahun 2026.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan para masyayikh, mustasyar, dan pemimpin PBNU yang diadakan di Pondok Pesantren Lirboyo di Kota Kediri, Jawa Timur, pada hari Kamis (25 Desember).
Ketua Dewan Eksekutif (Mustasyar) Nahdlatul Ulama (NU), KH Ma'ruf Amin, menyampaikan apresiasinya atas kesepakatan yang dicapai antara Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), KH Yahya Cholil Staquf, dan Rais Aam Nahdlatul Ulama (NU), KH Miftachul Akhyar, untuk mengadakan Kongres Nahdlatul Ulama (NU) bersama.
“Pertemuan ini berakhir dengan baik. Pada akhirnya, tercapai kesepakatan untuk mengadakan kongres, bukan kongres satu partai, tetapi kongres gabungan. Rais Aam dan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (PBNU) akan tetap menjabat. Jadi, bersama-sama, kita akan membentuk komite untuk menyelenggarakan kongres,” kata Ma'ruf Amin setelah pertemuan.
Konflik ini tidak muncul dari satu penyebab tunggal. Ini adalah akumulasi perbedaan dalam interpretasi otoritas, ritme kepemimpinan, dan bagaimana menafsirkan disiplin organisasi. Oleh karena itu, siapa pun yang mencoba menyederhanakannya menjadi "perseteruan pribadi" jelas mengaburkan masalah sebenarnya. (Ratmi)


