Pemerintah Harus Solutif Terkait Fenomena Masyarakat Menyerah Mencari Kerja

SuaraNegeri.com
Senin, 26 Januari 2026 | 09:30 WIB Last Updated 2026-01-26T02:30:18Z

SUARA NEGERI | KENDAL — Akhir-akhir ini, di media sosial ramai perihal fenomena masyarakat yang menyerah dalam mencari pekerjaan, terutama generasi muda dari lulusan S1 hingga S3. Kondisi ini merupakan permasalahan sosial-ekonomi ketenagakerjaan yang semakin nyata di Indonesia. 

Tidak sedikit angkatan kerja produktif yang akhirnya keluar bersaing dari pasar kerja akibat berulang kali mengalami penolakan, ketidaksesuaian kompetensi, hingga minimnya lapangan kerja formal.

Kondisi ini tidak hanya tercermin dalam angka pengangguran terbuka, tetapi juga pada kelompok discouraged workers, yakni individu yang sebenarnya mampu bekerja namun memilih berhenti mencari pekerjaan karena merasa tidak memiliki peluang. Jika dibiarkan, situasi ini berpotensi menurunkan produktivitas nasional dan memperlebar kesenjangan sosial.

“Faktor penyebab menyerahnya masyarakat mencari kerja bersifat multidimensional. Ketimpangan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja masih menjadi persoalan klasik dalam ketenagakerjaan, yang juga diperparah oleh laju digitalisasi yang belum diimbangi dengan pemerataan peningkatan keterampilan. Selain itu, pertumbuhan lapangan kerja berkualitas belum sebanding dengan jumlah lulusan baru setiap tahun, khususnya di wilayah non-perkotaan,” kata Pemerhati Ketenagakerjaan Dani Satria, melalui siaran persnya di Kendal, Jawa Tengah, pada Senin (26/01/2026).

Dani meminta agar pemerintah bisa hadir secara solutif melalui kebijakan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga struktural jangka panjang. Program peningkatan keterampilan harus berbasis kebutuhan lokal dan sektor potensial, bukan sekadar pelatihan generik. 

Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja perlu diarahkan pada penguatan sektor padat karya, ekonomi hijau serta minat wirausaha agar mampu menyerap tenaga kerja secara luas. Selain itu, integrasi data nasional tentang kebutuhan kerja, lowongan kerja, pendidikan dan industri juga menjadi kunci agar intervensi kebijakan lebih tepat sasaran.

“Pemerintah perlu memandang isu pencari kerja atau job seekers ini sebagai persoalan yang sangat mendesak dan berkaitan dengan ketahanan sosial. Masyarakat yang terus-menerus gagal memperoleh pekerjaan berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, stres dan keterasingan sosial,” imbuh Dani.

Fenomena masyarakat menyerah mencari kerja perlu diatasi melalui pendekatan komprehensif yang melibatkan peran aktif pemerintah, dunia usaha dan masyarakat umum secara simultan. 

Pemerintah perlu memperkuat kebijakan pasar kerja yang adaptif, seperti penyediaan pelatihan vokasional berbasis kebutuhan industri, program reskilling dan upskilling, serta layanan penempatan kerja yang terintegrasi serta mudah diakses hingga tingkat daerah.

“Di sisi lain, dunia usaha didorong untuk membuka lebih banyak peluang kerja layak melalui insentif fiskal, kemudahan perizinan dan penguatan sektor UMKM sebagai penyerap tenaga kerja utama. Pendekatan non-ekonomi juga penting, khususnya melalui pendampingan psikososial dan layanan konseling karier untuk memulihkan motivasi pencari kerja yang mengalami kelelahan mental akibat pengangguran berkepanjangan,” pungkas Dani. (*)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pemerintah Harus Solutif Terkait Fenomena Masyarakat Menyerah Mencari Kerja

Trending Now

Iklan