Mengetuk Pintu Langit, Masih Adakah Program Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Kabupaten Selayar?

SuaraNegeri.com
Senin, 19 Januari 2026 | 07:00 WIB Last Updated 2026-01-19T00:00:22Z

SUARA NEGERI | SELAYAR — Potret kemiskinan disertai keterbelakangan ekonomi dan keterbatasan finansial kembali terpampang di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan.  


Hasil pengamatan Tim Komunitas Peduli Selayar, menyiratkan sebuah realitas dan fakta nyata di lapangan, yang tak terbantahkan secara kasat mata di tengah lingkungan kehidupan masyarakat pesisir Kepulauan Selayar.

Fakta tersebut, terkuak dari temuan bangunan gubuk tidak layak huni, beratap daun kelapa yang berdiri di perantaraan Dusun Gusung Timur dan Gusung Barat, Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu.

Perkampungan nelayan pesisir tradisional yang berjarak tempuh hanya kurang lebih lima belas menit dari daratan Ibukota Kabupaten.

Pemandangan miris dan memprihatinkan kehidupan kakek lansia, berumur kurang lebih 65 tahun yang tinggal menempati bangunan gubuk reot di pesisir Dusun Gusung Timur, sontak mengalihkan pandangan mata tim relawan kemanusiaan dari Komunitas Peduli Sesama Kabupaten Selayar.

"Ya, kami masih melihat potret kemiskinan seperti itu, saat kami melintas tidak sengaja di depan bangunan gubuk berdinding daun kelapa dan tenda plastik seadanya itu," kata Fadly Syarif, Pendiri Komunitas Peduli Selayar (KPS), pada Senin (19/1) usai observasi data kemiskinan di Selayar.

"Iba luar biasa, itu pasti. Kadang saya juga ikut menangis melihat kondisi mereka," katanya, lirih dalam sambungan telepon.

Lanjutnya, pandangan mata relawan Komunitas Peduli Sesama Kabupaten Selayar, secara spontanitas mengarah dan tertuju langsung pada bangunan gubuk tunggal yang berdiri di tengah area perkebunan milik warga Desa Bontolebang tersebut.

Menyaksikan kondisi bangunan gubuk  reot tidak layak huni tanpa dukungan fasilitas penerangan listrik yang nota benenya, ditempati oleh seorang lansia, relawan Komunitas Peduli Sesama Kabupaten Selayar, langsung bergerak cepat melakukan proses assesmant sembari mencoba menyelami dan menggali lebih dalam persoalan lipatan sosial yang 'membungkus' rapi catatan lika liku kehidupan Nuruddin, pria paruh baya berusia kurang lebih 65 tahun.

Sesi dialog dan diskusi santai mengawali rangkaian investigasi untuk menggali catatan riwayat kehidupan Nuruddin. 

Kodrat kehidupan menyedihkan Nuruddin dimulai semenjak ditinggal pergi oleh mendiang isterinya yang telah lebih awal berpulang ke Rahmatullah.

Sejak itu, Nuruddin mengaku hidup seorang diri menempati bangunan hunian dengan kondisi fisik yang memilukan dan menyayat hati.

Hasil assesmant dan investigasi lapangan mengungkap fakta mencegangkan tentang realitas kehidupan sosial dan nasib malang Nuruddin (65 tahun) yang terpampang menjadi bagian dari bukti nyata minimnya kepekaan serta kepedulian jajaran Dinas Sosial sebagai instansi tekhnis berkompoten dalam menyikapi berbagai bentuk fenomena keterbelakangan ekonomi di lingkungan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, fakta tersebut membuktikan ketidak pekaan pemerintah dan sekaligus menunjukkan kegagalan telat dinas sosial dalam upaya mendukung program pengentasan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Selayar. 

Berdasarkan data yang dikantogi Komunitas Peduli Sesama Kabupaten Selayar, Nuruddin (65 tahun) diketahui merupakan satu dari sekian banyak orang tua kategori lansia di Kabupaten Selayar yang mau tidak mau, harus rela menjalani takdir kehidupan di tengah segala bentuk keterbatasan ekonomi dan kemampuan finansial. (FS/Red)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mengetuk Pintu Langit, Masih Adakah Program Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Kabupaten Selayar?

Trending Now

Iklan