SUARA NEGERI | JAKARTA — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Institut Pertanian Bogor (IPB) resmi menandai kebangkitannya setelah melewati fase kevakuman organisasi yang cukup panjang. Sejak pertengahan 2024 hingga akhir 2025, aktivitas GMNI IPB cenderung stagnan, ditandai minimnya kegiatan serta tersendatnya proses regenerasi kader.
Kondisi tersebut membuat organisasi nyaris kehilangan ritme sebagai wadah pembinaan ideologi dan perjuangan mahasiswa. Namun, kesadaran kolektif untuk menghidupkan kembali GMNI IPB mulai tumbuh melalui serangkaian pertemuan informal antar mahasiswa IPB yang memiliki ketertarikan terhadap GMNI.
Selain konsolidasi internal mahasiswa aktif, dialog lintas generasi turut terbangun melalui pertemuan dengan alumni GMNI IPB, antara lain Bung Fadil (IPB 55), Sarinah Mey (IPB 57), dan Bung Gio (IPB 61). Pertemuan tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas kondisi organisasi sekaligus peneguhan bahwa kebangkitan GMNI IPB perlu dilakukan secara sah, terstruktur, dan berkelanjutan.
Kesadaran itu kemudian diwujudkan melalui Musyawarah Komisariat GMNI IPB yang diselenggarakan pada 11 Januari 2026, bertempat di Bento Kopi IPB Dramaga, mulai pukul 19.30 WIB. Musyawarah ini diikuti oleh mahasiswa aktif GMNI IPB serta dihadiri alumni senior, Bung Bambang (IPB 51) dan Bung Imam (IPB 59).
Forum musyawarah tersebut digelar tanpa melibatkan unsur cabang maupun pihak eksternal lainnya, dengan fokus utama pada konsolidasi internal, penataan ulang organisasi, serta perumusan arah gerak GMNI IPB ke depan.
Dalam musyawarah tersebut, peserta secara mufakat menetapkan struktur kepengurusan awal, yakni Bung Indra Giovanna Ramadhan (IPB 61) sebagai Ketua, Bung Alif (IPB 62) sebagai Sekretaris, dan Bung Irsyad (IPB 61) sebagai Bendahara untuk periode 2026–2027.
Lebih dari sekadar penetapan struktur, musyawarah ini juga memuat komitmen bersama untuk mengaktifkan kembali GMNI IPB, baik melalui penguatan kaderisasi dan kestrukturan organisasi secara internal, maupun dengan mengambil peran aktif dalam dinamika gerakan mahasiswa dan persoalan sosial secara eksternal.
Sebelumnya, kevakuman GMNI IPB tidak lepas dari sejumlah faktor, seperti sulitnya regenerasi kader di lingkungan kampus berbasis sains dan teknologi, rendahnya ketertarikan mahasiswa terhadap isu ideologi dan pergerakan, serta lemahnya kepemimpinan periode sebelumnya yang berdampak pada tidak berjalannya organisasi secara berkelanjutan.
Musyawarah ini dipandang sebagai titik balik penting. Mayoritas peserta yang merupakan mahasiswa baru IPB menyadari bahwa kebangkitan organisasi tidak dapat dilakukan secara sporadis, melainkan harus melalui mekanisme demokratis yang memberikan legitimasi dan arah yang jelas.
Ke depan, GMNI IPB diarahkan tidak hanya sebagai organisasi ideologi dan pergerakan, tetapi juga sebagai wadah pengembangan diri kader. Nilai-nilai ideologis tetap dijaga sebagai fondasi, namun disampaikan secara kontekstual agar tidak menimbulkan jarak maupun stigma negatif terhadap organisasi mahasiswa ekstra kampus.
Dengan latar belakang IPB, GMNI IPB juga berkomitmen mengangkat isu-isu kerakyatan, khususnya yang berkaitan dengan petani, nelayan, dan kaum marhaen, sekaligus membuktikan bahwa kader GMNI mampu berprestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Ketua GMNI IPB terpilih, Indra Giovanna Ramadhan, menegaskan bahwa musyawarah ini merupakan simbol kebangkitan organisasi setelah fase “tidur panjang”.
"Musyawarah Komisariat ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi ikhtiar kolektif untuk menghidupkan kembali GMNI IPB sebagai ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang berjuang bersama. Kami ingin mengembalikan kepercayaan bahwa organisasi mahasiswa bukan sesuatu yang patut dicurigai, melainkan sarana pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kesadaran sosial di lingkungan kampus," ujarnya.
Sebagai mahasiswa IPB yang aktif dalam gerakan kemahasiswaan dan organisasi, Indra juga terlibat di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (BEM FPIK) bidang Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat). Ketertarikannya pada isu sosial, politik, kemaritiman, serta persoalan nelayan dan kaum marhaen menjadi salah satu orientasi gerakan GMNI IPB ke depan.(Sa/by)


