-->
  • Jelajahi

    Copyright © SUARANEGERI.COM | BERITA SUARA NEGERI
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Gempa 6,5 Guncang Sulawesi Tengah, Belum Ada Laporan Kerusakan

    SuaraNegeri.com
    27 Juli 2021, 07:22 WIB Last Updated 2021-07-27T00:22:06Z

    SUARA NEGERI ■ Dua gempa tektonik menguncang wilayah Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah Senin malam (26/7). BMKG mengatakan gempa pertama berkuatan magnitudo 5.9 terjadi pada pukul 11:52:03 WITA dan gempa berikutnya terjadi pada pukul 20:09:07 WITA dengan kekuatan magnitudo 6.5. Warga yang panik sempat mengungsi ke tempat tinggi, namun sejauh ini belum ada laporan kerusakan.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam keterangan pers yang disampaikan secara daring, Senin malam (26/7) menjelaskan episenter gempa terbaru itu terletak pada koordinat 0,77° LS; 121,95° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 58 km arah Timur Laut Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah pada kedalaman 10 kilometer. Gempa bumi itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

    Guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Ampana Kabupaten Tojo Una-Una dengan intensitas guncangan skala V-VI MMI atau getaran dirasakan oleh semua penduduk. Sementara di Luwuk, Poso, Morowali, intensitasnya V MMI atau getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun.

    “Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi tersebut. Namun kalau kita melihat skala MMI-nya ini termasuk cukup besar yaitu terutama di Ampana V-VI MMI, ini perlu segera di cek karena ini cukup kuat dan juga V skala MMI itu di Luwuk, Poso, Morowali ini juga dikhawatirkan akan berdampak merusak apabila di situ banyak rumah-rumah,” kata Dwikorita Karnawati.

    Guncangan gempa bumi ini juga dirasakan warga di sejumlah daerah lain yang berada di Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat dengan intensitas II-IV MMI.

    “Rekomendasi kami adalah ini khususnya masyarakat di pesisir Bolaang dan Bunta agar menjauhi pantai dan diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Dwikorita. Warga di daerah terdampak guncangan gempa diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

    “Mohon segera diperiksa dan pastikan bangunan tempat tinggal masyarakat cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan, sebelum kembali ke dalam rumah” tambahnya.

    Warga Mengungsi ke Tempat Tinggi

    Chandra Lubah (41) warga desa Sumoli, Kecamatan Ratolindo, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah kepada VOA mengatakan dampak gempa menyebabkan kepanikan warga yang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

    “Sekitar sepuluh detik guncangan itu, sangat kuat dan masyarakat yang tinggal di pesisir pinggir-pinggir pantai itu sudah mengungsi ke daerah pegunungan,” kata Chandra dihubungi dari Poso.

    Chandra mengaku sedang bersantai dengan keluarganya ketika gempa itu terjadi yang juga menyebabkan aliran listrik padam. Dia dan seluruh anggota keluarganya segera mengamankan diri keluar rumah.

    “Sementara lagi santai, menikmati kopi, terus guncangan langsung panik. Anak-anak dikumpul semua langsung lari keluar rumah jangan nanti ada bangunan yang akan jatuh,” cerita Chandra yang mengaku belum melihat ada kerusakan di sekitar tempat tinggalnya di desa itu.

    Sejarah Gempa di Teluk Tomini

    Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menjelaskan wilayah Teluk Tomini berada di zona sesar aktif Balantak Dekstral yang berada di dasar laut. Sesar itu memanjang dari Timur ke Barat yaitu dari Balantak Kabupaten Banggai hingga Poso.

    “Memotong bagian barat Balantak tapi terus masuk laut dan ke barat menuju kawasan Poso,” jelas Daryono.

    BMKG mencatat setidaknya sudah ada sembilan kali gempa kuat yang pernah terjadi sejak tahun 1927 dengan kekuatan antara magnitudo 6,1 hingga 6,6.

    “Kawasan ini memang masih minim diteliti sehingga penting bagi para ahli kebumian untuk meneliti kawasan ini agar kita bisa mempelajari kajian risiko dan bahaya gempa bumi secara lebih detail karena memang kawasan ini akan berkembang menjadi kawasan yang maju ke depan sehingga aspek-aspek mitigasi harus terus kita kembangkan,” papar Daryono.

    BMKG menyebutkan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi itu merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya deformasi karena Sesar Lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan normal. (VOA)



    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru