-->
  • Jelajahi

    Copyright © SUARANEGERI.COM | BERITA SUARA NEGERI
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Tumpas Teroris OPM Di Papua, TNI-Polri Tidak Pernah Melibatkan Masyarakat Sipil

    SuaraNegeri.com
    25 Mei 2021, 14:02 WIB Last Updated 2021-05-25T07:02:35Z

    SUARA NEGERI ■ Isu penggunaan masyarakat sipil oleh TNI-Polri selalu digunakan Teroris OPM untuk dipublikasikan melalui media propagndanya dengan dalil yang dibunuhnya adalah mata-mata TNI-Polri. Bisa Pendeta/gembala, pelajar, atau golongan dari masyarakat lainnya.

    Menyikapi tuduhan ini, Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes Pol Iqbal Alqudussy membantah keras pendapat tersebut. 

    Iqbal menegaskan, satuan tugas TNI-Polri dalam melaksanakan tugasnya di Papua sangat profesional. 

    "Itu hanya pembenaran mereka saja, saat ini kami fokus pada penyisiran kelompok Teroris OPM di daerah-daerah yang kami namakan zona Mini (Mimika, Intan Jaya, Nduga dan Ilaga) kami telah menguasai camp-camp milik kelompok tersebut serta berusaha menciptakan suasana kondusif bagi masyarakat," kata Iqbal melalui rilisnya, pada Selasa (25/5/2021).

    Lebih lanjut Iqbal mengatakan, TNI-Polri juga melakukan kegiatan Soft Approach melalui dunia pendidikan, juga perekonomian melalui pemberian bibit pertanian, perikanan serta bidang sosial lainnya. 

    "Tidak lupa Satgas TNI-Polri memberikan Trauma Healing bagi masyarakat khususnya bagi anak-anak pasca terjadinya kontak tembak," jelas Iqbal.

    "Sinergitas TNI-Polri menjadi hal penting dalam pencapaian target operasi Nemangkawi, pemetaan kelompok dan Daftar Pencarian Orang (DPO) sudah kami petakan sebelum operasi penegakam hukum kami selalu berkoordinasi dengan kepala suku dan tokoh masyarakat setempat," ujar Iqbal.

    Hal senada juga ditegaskan oleh Kepala penerangan Kogabwilhan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa. Saat ini posisi mereka terdesak, front politik dengan label teroris tidak mendapat dukungan dari dunia internasional, sementara front senjata mereka, TNI-Polri selalu membatasi ruang gerak kelompok ini dan intens dalam pengejaran.

    "Front Clandestin mereka bermain di media sosial atau media online dengan memanfaatkan influencer yang pengikutnya banyak, didukung oleh media pro mereka, dengan menyebar berita-berita bohong," pungkas Suriastawa.

    ■ irwan/rls

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru