-->
  • Jelajahi

    Copyright © SUARANEGERI.COM | Aktual - Objektif - Berimbang
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Halaman Depan

    Prosesi Kenaikan Sabuk Tingkat Pesilat PSHT Di Kampoeng Londho Banyuurip

    SuaraNegeri.com
    14 Maret 2021, 16:42 WIB Last Updated 2021-03-14T09:42:37Z
    Prosesi Kenaikan Sabuk Tingkat Pesilat PSHT Di Kampoeng Londho Banyuurip

    SUARA NEGERI ■ Sekelompok siswa pesilat Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) mengikuti kenaikan sabuk tingkat dalam penggemblengan ilmu pencak silat bertempat di area halaman bangunan peninggalan sejarah era belanda atau kampoeng Londho di bukit cemara Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Minggu (14/03/2021) 

    Puluhan siswa - siswi yang mengikuti prosesi kenaikan sabuk nampak kitmad mendengarkan petuah atau wejangan yang diberikan sesepuh warga PSHT kecamatan setempat. 

    Ketua PSHT ranting Senori, Zakki Mubarok dalam pembinaan disampaikan bahwa siswa - siswi di harap untuk menjaga dan merawat budaya lokal dan lingkungan sekitar. Utamanya kawasan sejarah yang menjadi cikal - bakal suatu daerah. 

    "Untuk adik - adikku sekalian, kami anjurkan untuk mengenal sejarah. Khususnya warga PSHT dengan merujuk perjalanan napak tilas sejarah pencak silat yang lahir sejak era perintis kemerdekaan RI. Begitupun di lokasi gunung cerama atau kampoeng Londho Banyuurip ini juga punya cerita sejarah yakni kota minyak yang punya mobilitas tinggi di masa  belanda sebelum kemerdekaan. Kami harap siswa yang naik kelas akan punya semakin tinggi ilmu kian menunduk," himbaunya.

    Terkonfirmasi terpisah, Kades Banyuurip Sugiyanto mengatakan, bahwa adanya kegiatan prosesi kenaikan sabuk tingkat di obyek kampoeng Londho, sangat mengapresiasi kedatangan puluhan pesilat. Karena siswa PSHT rata - rata usia muda juga perlu pengenalan sejarah lokal seperti bangunan sejarah yang kerap kali mulai luntur di kalangan generasi muda. Sehingga hal berakibat hilangnya ajaran dimana kita bertempat disitu bumi harus di junjung tinggi. 

    "Kegiatan pengenalan edukasi sejarah ini sangat positif dilakukan langsung di outdoor. Apalagi pesertanya siswa pencak silat," tuturnya.

    Giyanto sapaan kades Banyuurip menceritakan, awal mulai kembali akan dibukanya destinasi kampoeng Londho setelah revitalisasi atau penugaran bangunan sejarah di kota minyak tersebut, yang terus berjalan dengan menggandeng tim pendampingan atau asesor yang bergerak bidang potensi pengembangan wisata desa. 

    "Pemugaran oleh tim atau asesor agar obyek wisata kampoeng Londho menjadi miniatur perminyakan dan kami berharap tahun ini sudah dapat di buka untuk umum," harapnya.

    Prosesi Kenaikan Sabuk Tingkat Pesilat PSHT Di Kampoeng Londho Banyuurip

    Dia akui sejumlah pemugaran dilakukan mulai kolam renang panjang 100 meter dan lebar 50 meter dan bekas sumur angguk serta area bangunan rumah dinas era zaman belanda yang terletak di kawasan operasional perusahan PT Pertamina, EP asset 4. 

    Giyanto menyayangkan puluhan tahun lamannya keberadaan aset - aset sejarah serta adanya pergantian pengelolaan wewenang perusahan dan managemen migas turut menyumbang terbengkalainya aset - aset tersebut. 

    "Ihtiar kami selalu pemerintah desa mengelola aset -aset peninggalan sejarah ini, untuk kemudian menjadi wisata kampoeng Londho. harapanya perusahaan juga ikut membangun atau memugar gedung untuk dijadikan perpustakaan edukasi pendidikan miniatur perminyakan, dari pengambilan di perut bumi sampai pengelolaan beragam menjadi BBM. Andaikan perusahan membangun perpus miniatur seperti itu. Kami yaqin warga sekitar dengan wisata kampoeng Londho serta edukasi perminyakan akan meningkatkan taraf ekonomi," tutupnya.

    Terpantau di kawasan destinasi kampoeng Londho Banyuurip, tak jauh area gunung cemara tempat prosesi penyematan sabuk siswa PSHT oleh warga sekitar juga menyebutkan adanya bangunan rumah dinas atau hunian komisaris utama perusahan migas dan staf beserta pekerjanya zaman Belanda, Jepang. 

    Peninggalan rumah dinas itu terletak di empat lokasi bukit berbeda yakni bukit gunung gong, gunung cemara, gunung pipis dan gunung tugel.

    "Kalau sisa - sisa masih, meski tidak terawat. Namun untuk bangunan perumahan peninggalan Belanda dan Jepang di Gunung Gong, Gunung Tugel dan Gunung Pipis dapat di lihat," jelas Sapuan pemuda desa setempat. 

    Pewarta ■ Ahmad Istihar

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru