Retaknya Mitos Negara Adidaya

SuaraNegeri.com
Kamis, 09 April 2026 | 11:34 WIB Last Updated 2026-04-09T04:34:22Z

Oleh: M. Husni Mubarok (MHM)

Sejarah jarang bergerak secara linier. Ia sering melompat melalui peristiwa-peristiwa yang pada awalnya tampak tak menentukan, tetapi perlahan menggeser keseimbangan kekuatan global. Eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah, yang melibatkan serangan berbasis drone yang dikaitkan dengan Iran terhadap Israel, dapat dibaca dalam kerangka tersebut.

Serangan ini mungkin tidak serta-merta mengubah peta kekuatan militer secara drastis. Namun, ia menembus sesuatu yang lebih mendasar: persepsi tentang ketangguhan sistem pertahanan dan dominasi teknologi yang selama ini melekat pada Israel dan sekutunya, Amerika Serikat.

Dalam perang modern, kerusakan fisik dapat segera diperbaiki. Infrastruktur militer bisa dibangun ulang, dan sistem pertahanan dapat ditingkatkan. Akan tetapi, daya gentar, deterrence, dan kredibilitas strategis adalah aset yang jauh lebih rapuh. Sekali retak, pemulihannya tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga pembuktian berulang di medan yang berbeda.

Di sinilah letak signifikansi peristiwa ini. Bagi sebagian pengamat, respons Iran menunjukkan bahwa negara tersebut tidak hanya bertahan di bawah tekanan panjang, tetapi juga mulai mampu mengimbangi, setidaknya secara asimetris, kekuatan yang selama ini dianggap superior.

Selama lebih dari empat dekade, Iran berada dalam tekanan embargo dan isolasi internasional. Namun, alih-alih melemah secara struktural, tekanan tersebut justru mendorong terbentuknya kemandirian di bidang teknologi militer, khususnya dalam pengembangan drone dan strategi perang non-konvensional. Model ini tidak bertumpu pada superioritas total, melainkan pada kemampuan mengganggu, menguras, dan menguji batas lawan.

Meski demikian, menyimpulkan bahwa dominasi Barat telah runtuh sepenuhnya adalah langkah yang terlalu tergesa. Amerika Serikat tetap memiliki keunggulan dalam proyeksi kekuatan global, aliansi militer, serta teknologi canggih yang belum tertandingi secara menyeluruh. Demikian pula Israel, yang masih memegang keunggulan signifikan dalam sistem pertahanan berlapis dan intelijen.

Namun, keunggulan tersebut kini menghadapi tantangan baru: perang tidak lagi berlangsung secara simetris. Aktor-aktor seperti Iran mengandalkan fleksibilitas, ketahanan, dan inovasi taktis yang sulit diprediksi oleh pendekatan militer konvensional.

Untuk memahami ketahanan Iran, pendekatan militer semata tidak cukup. Negara ini berdiri di atas fondasi sejarah panjang sebagai pewaris peradaban Persia, sebuah entitas yang sejak ribuan tahun lalu telah memainkan peran penting dalam panggung global. Identitas ini tidak hanya hidup dalam bahasa dan budaya, tetapi juga dalam cara pandang strategis yang menekankan ketahanan jangka panjang.

Dalam lintasan sejarah, Persia pernah menjadi penyeimbang kekuatan besar lain seperti Bizantium. Tradisi ini membentuk cara Iran modern melihat dirinya: bukan sekadar negara, melainkan kelanjutan dari memori peradaban. Dalam konteks ini, tekanan eksternal justru sering kali memperkuat kohesi internal.

Di tengah dinamika tersebut, konflik yang berlangsung hari ini mengirimkan pesan yang lebih luas kepada dunia. Bahwa kekuatan global tidak lagi semata ditentukan oleh besarnya anggaran militer atau kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap bentuk-bentuk konflik baru.

Bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar peristiwa jauh di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas energi, jalur perdagangan, serta dinamika politik global yang pada akhirnya berdampak langsung pada kepentingan nasional.

Pada akhirnya, yang sedang kita saksikan bukanlah runtuhnya sebuah negara adidaya dalam arti harfiah, melainkan retaknya sebuah mitos: bahwa dominasi global bersifat absolut dan tak tergoyahkan. Dalam dunia yang semakin multipolar, bahkan kekuatan terbesar pun kini harus berhadapan dengan realitas baru, bahwa keunggulan tidak lagi menjamin ketidakrentanan.

Jakarta, Kamis, 9 April 2026
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Retaknya Mitos Negara Adidaya

Trending Now

Iklan