Di Balik Hiruk Pikuk Pasar, Menjaga Tenun Persatuan

SuaraNegeri.com
Rabu, 29 April 2026 | 14:21 WIB Last Updated 2026-04-29T07:21:01Z

BOGOR — Di bawah atap seng yang memantulkan terik siang, Pasar Baranangsiang tidak sekadar menjadi ruang jual beli. Pasar ini merekam denyut keberagaman yang hidup, tempat perbedaan suku, agama, dan latar belakang bertemu dalam ritme keseharian yang cair.

Aroma rempah berpadu dengan bau ikan asin, sementara ragam logat bersahut-sahutan dalam proses tawar-menawar. Di balik riuh itu, tersimpan praktik sosial yang menjaga harmoni: saling percaya, saling menjaga, dan kesadaran bahwa hidup berdampingan adalah kebutuhan.

Koh Ahian, pedagang kelontong yang telah puluhan tahun berjualan, menyebut hubungan antarpedagang dibangun di atas kepentingan bersama yang sederhana.

> “Kami tidak punya waktu untuk membenci. Kalau saya sakit, tetangga yang jaga toko. Kalau mereka butuh bantuan, saya bantu. Di sini, perbedaan itu urusan pribadi. Di pasar, kami bersaudara,” ujarnya, rabu 29/04/2026.

Namun, harmoni tersebut tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Arus informasi digital membawa konsekuensi baru. Telepon genggam para pedagang kerap menjadi saluran masuk pesan berantai, potongan video, hingga narasi provokatif yang berpotensi memicu prasangka.

Bapak Alif, tokoh masyarakat setempat, melihat fenomena ini sebagai ancaman yang bekerja perlahan.

“Provokasi itu seperti rayap. Tidak terlihat, tetapi menggerogoti dari dalam. Radikalisme tumbuh dari cara pandang yang tertutup dan informasi yang tidak utuh,” katanya.

Ia menilai, menjaga kohesi sosial di tingkat akar rumput menjadi kunci penting dalam merawat persatuan. Upaya tersebut, menurut dia, dimulai dari sikap kritis terhadap informasi dan kesediaan untuk tidak mudah terpancing.

Dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan para pedagang agar menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Kalau sebuah kabar membuat kita ingin membenci sesama, patut dipertanyakan. Jangan sampai kita ikut menyebarkan sesuatu yang justru merusak hubungan,” ujarnya.

Menjelang sore di Bogor, aktivitas pasar tetap berlangsung. Interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah sumber konflik, melainkan bagian dari keseharian yang memperkuat ikatan sosial.

Pengalaman di Pasar Baranangsiang memperlihatkan, persatuan tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan hasil dari praktik yang terus diupayakan. Di tengah derasnya arus informasi dan potensi polarisasi, ruang-ruang seperti pasar tradisional menjadi penyangga penting bagi ketahanan sosial.

Di sanalah, di antara hiruk pikuk dan kesederhanaan, tenun persatuan terus dijaga, hari demi hari. (frs)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Di Balik Hiruk Pikuk Pasar, Menjaga Tenun Persatuan

Trending Now

Iklan