Tuban, Jawa Timur — Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok kembali terjadi di berbagai daerah. Fenomena ini seolah menjadi rutinitas tahunan yang berulang, terutama pada periode mendekati hari besar keagamaan.
Di sejumlah wilayah, langkah intervensi telah dilakukan. Pemerintah daerah menggelar operasi pasar, memantau distribusi, serta berkoordinasi dengan pelaku usaha. Di Nganjuk, pasar murah digelar untuk menekan harga. Di Tulungagung, beberapa komoditas seperti beras dan minyak goreng dilaporkan mengalami kenaikan.
Pemantauan juga dilakukan di Kutai Timur, sementara di Bangka Belitung, Ombudsman mencatat tren kenaikan menjelang Lebaran. Adapun di Pamekasan, harga relatif stabil meski komoditas cabai menunjukkan kecenderungan meningkat.
Pantauan di pasar tradisional Tuban pada Rabu (18/3/2026) menunjukkan kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas seperti cabai, bawang, dan minyak goreng. Aktivitas jual beli tetap ramai, meski daya beli masyarakat mulai terasa tertekan.
Siti Aminah (47), seorang pedagang sembako di Pasar Baru Tuban, mengatakan kenaikan harga sudah mulai terasa sejak sepekan terakhir.
"Cabai rawit sekarang bisa tembus Rp80 ribu per kilo, padahal sebelumnya masih di kisaran Rp50 ribu. Pembeli jadi banyak yang mengurangi belanja," ujarnya.
Sementara itu, Joko Santoso (38), salah satu pembeli, mengaku harus lebih selektif dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga menjelang Lebaran.
"Biasanya bisa beli lengkap, sekarang harus dipilih-pilih. Yang penting kebutuhan pokok dulu, yang lain nanti saja," katanya.
Kenaikan harga pada periode Lebaran kerap dikaitkan dengan meningkatnya permintaan masyarakat. Namun, berulangnya pola ini setiap tahun menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana kesiapan sistem distribusi dan pengelolaan pasokan nasional.
Sejumlah kalangan menilai bahwa intervensi yang dilakukan masih cenderung bersifat jangka pendek. Langkah-langkah seperti operasi pasar dinilai efektif dalam meredam gejolak sesaat, tetapi belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar.
Dalam perspektif geopolitik, pangan merupakan bagian penting dari ketahanan negara. Stabilitas harga dan ketersediaan pasokan tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada stabilitas sosial.
Tantangan yang dihadapi antara lain panjangnya rantai distribusi, ketergantungan antarwilayah, serta sensitivitas terhadap dinamika global. Kondisi ini membuat sistem pangan rentan terhadap tekanan, terutama pada momentum dengan lonjakan permintaan tinggi.
Kenaikan harga kebutuhan pokok turut menguji implementasi nilai Pancasila, khususnya sila kelima mengenai keadilan sosial. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, fluktuasi harga pada periode penting seperti Lebaran dapat berdampak langsung terhadap daya beli.
Dalam konteks ini, stabilitas harga bukan sekadar isu ekonomi, melainkan juga menyangkut akses yang adil terhadap kebutuhan dasar.
Periode H-2 Lebaran kerap menjadi cermin kesiapan sistem pangan nasional. Berulangnya pola kenaikan harga menunjukkan perlunya penguatan kebijakan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Upaya perbaikan dinilai tidak hanya terletak pada intervensi saat gejolak terjadi, tetapi juga pada pembenahan struktur distribusi, penguatan cadangan pangan, serta koordinasi lintas sektor yang lebih solid.
Dengan demikian, stabilitas harga tidak hanya menjadi respons sesaat, tetapi bagian dari sistem yang mampu bekerja secara konsisten, termasuk pada momen-momen krusial seperti Lebaran.(sang)


