SUARA NEGERI | SELAYAR — Cuaca ekstreme, gelombang tinggi yang disertai angin kencang, tak menjadi tirai penghalang serta ruang penyekat bagi Fadly Syarif, sosok relawan kemanusiaan, dan pemerhati pembangunan daerah Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan untuk menyambangi plus menyapa secara langsung, warga korban dampak bencana di dua wilayah dusun, di Pulau Gusung, Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu.
Informasi dampak kerusakan bangunan rumah warga akibat bencana yang masuk dan diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) direspon cepat dengan menyeberangi Pulau Gusung di tengah badai gelombang laut dan angin kencang.
Tiga wilayah dusun di Desa Bontolebang, yang dinilai rawan terdampak bencana, disisir habis, setelah kurang lebih dua puluh menit melakukan perjalanan laut, melewati gelombang tinggi dengan menumpangi perahu tradisional yang berangkat dari kawasan wisata (Wiskul) Benteng, pada sekira pukul 16.15 Wita, Rabu, (14/1) sore.
Kegiatan penelusuran yang disertai pelaksanaan assesmant dan proses kaji cepat, diawali dari Dusun Gusung Lengu.
Hasilnya, belasan rumah warga, teridentifikasi mengalami kerusakan akibat dampak bencana angin kencang yang dalam sepekan terakhir, intens menerjang sejumlah wilayah desa dan kecamatan di Kabupaten Selayar.
Dari hasil assesmant dan kaji cepat yang dilakukan di lapangan, tiga diantara belasan unit rumah yang terdampak bencana angin kencang, teridentifikasi mengalami kerusakan berat.
Kondisi serupa turut dialami oleh salah seorang warga Gusung Barat dan Gusung Timur yang rumahnya hancur usai tertimpa daun serta buah kelapa.
Sementara belasan rumah lain, diklasifikasikan rusak ringan hingga sedang.
Agenda kunjungan penelusuran ke Desa Bontolebang, tak hanya difokuskan pada pelaksanaan assesmant dan proses kaji cepat untuk mengklasifikasikan tingkat kerusakan rumah yang dialami oleh warga korban bencana angin kencang.
Spasi dan sisa ruang waktu dimanfaatkan untuk mengunjungi, menyapa, berdialog, dan menyambung silaturrahmi dengan Nuruddin, pria paruh bayah, berusia kurang lebih enam puluh lima tahun yang tinggal menempati bangunan pondok berdinding tenda serta daun kelapa tidak layak huni di perbatasan antara Dusun Gusung Timur dan Gusung Barat. (FS)




