Suasana ruang rapat Komisi IV DPR RI mendadak berubah tegang ketika Ketua Komisi, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto marah, Kamis (4/13).
Ia menyampaikan unek-uneknya terkait bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera.
"Saya merasa miris dan marah, manusia mana yang tega menebangi pohon pohon besar di hutan. Padahal hutan itu berfungsi sebagai penyerap air hujan dan penghasil oksigen yang di butuhkan manusia," kata dia terbata.
Mirisnya lagi, lanjut Titiek, baru saja dua hari kita kena musibah, tapi truk truk pengangkut kayu glondongan besar itu lewat depan mata kita.
"Itu tak hanya melecehkan, tapi juga penghinaan terhadap rakyat yang tengah di timpa musibah," pungkasnya.
"Pohon itu pencegah erosi dan penyegar udara, kok di potong begitu saja," imbuhnya.
Oleh sebab itu, Titiek pun minta menhut untuk menghentikan kegiatan ilegal logging ataupun yang legal untuk tidak lagi melaksanakan aktivitas penggundulan hutan.
Sebelumnya, anggota Komisi IV DPR RI Rahmat Saleh yang mencontohkan menteri di Filipina mundur lantaran tak bisa tangani masalah banjir.
Raja Juli mengatakan dirinya siap dievaluasi.
"Saya yakin ya, namanya kekuasaan itu milik Allah ya dan itu hak prerogatif presiden. Jadi saya siap dievaluasi," kata Raja Juli usai Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Raja Juli menyebut tak pernah menghapus segala kritikan terutama dari masyarakat yang masuk ke media sosialnya.
Menurutnya, hal itu bagian dari aspirasi yang mesti diterima oleh setiap pejabat.(Sri/tri/Gus)

