Diduga Ada Mafia di Balik Anjloknya Harga Telur

SuaraNegeri.com
31 Agustus 2023 | 13:39 WIB Last Updated 2023-08-31T06:39:57Z

SUARA NEGERI | BLITAR — Anjloknya harga telur ayam di pasaran dicurigai sebagai ulah mafia pangan. Mereka mengobral harga telur di pasaran sehingga mengakibatkan efek domino di hampir semua wilayah, utamanya Pulau Jawa.

Hari ini, harga telur ayam di tingkat peternak Blitar terus anjlok. Sempat bertahan di harga Rp19 ribu, kini harga telur ayam justru turun hingga mencapai Rp18.500 per kilogramnya.

Para peternak pun kebingungan. Sebab, harga telur ayam di pasaran saat ini masih normal yakni Rp. 25.000 hingga Rp. 26.000 per kilogram. Mereka pun menduga ada mafia yang sengaja mempermainkan harga telur.

Dugaan peternak ayam petelur Blitar ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, sejak harga anjlok permintaan telur ayam dari pasaran masih normal. Tidak ada stok melimpah di gudang atau di kandang peternak Blitar.

Para pedagang dari Surabaya hingga Jakarta masih rutin memesan telur setiap 2 hari sekali dengan jumlah yang sama. Penjualan telur di pasaran pun juga masih normal, tidak ada telur yang tidak laku atau dibuang.

Kondisi ini pun mematahkan dugaan bahwa harga telur anjlok akibat lesunya kondisi pasar. Para peternak  menduga ada sekelompok orang atau “mafia” yang sengaja menghancurkan harga telur ayam di tingkat peternak, demi kepentingan tertentu.

“Tidak ada telur yang menumpuk di peternak, bisa disidak kok di tiap-tiap peternak rakyat itu ada tidak stok telur yang menumpuk, dan ditingkat pedagang sendiri di Jakarta dan Surabaya, di sana juga lancar-lancar saja, tidak ada telur yang tidak laku,” kata Suryono, peternak ayam petelur Blitar, pada Kamis (31/8/2023).

Selain soal Mafia, dugaan lain muncul. Diduga ada sejumlah peternak besar yang menjual telur ayamnya ke pasaran dengan harga murah. Sehingga harga beli telur dari peternak rakyat di Blitar juga ikut anjlok.

Para peternak rakyat Blitar menduga, para pengusaha ayam petelur dalam sekala besar kesulitan untuk menjual telurnya. Sehingga, diduga pemain besar itu sengaja membanting harga agar telurnya terserap ke pasaran.

“Apa mungkin pengusaha-pengusaha peternak telur yang punya jutaan telur itu, yang mungkin kesulitan juga kemudian banting harga atau mungkin ada mafia yang berada ditengah-tengah yang sengaja menghancurkan harga,” ungkapnya.

Di balik semua dugaan tersebut, para peternak ayam petelur Blitar yang kini jumlahnya mencapai 3.500 orang hanya berharap pemerintah bisa menstabilkan harga telur. Pasalnya dengan harga Rp18.500 tersebut, para peternak telur merugi ratusan hingga jutaan rupiah setiap hari.

Kondisi itu diperparah, harga jagung yang terus naik hingga tembus Rp6.500 per kilogramnya. Harga tersebut sudah jauh melampaui dari Harga Acuan Pembelian yang diatur dalam Perbadan Nomor 5/2022 yakni sebesar Rp5000 per kilogramnya. Jagung sendiri merupakan bahan utama untuk dijadikan pakan ayam petelur.

Dengan kondisi itu, kini para peternak di Blitar hanya bisa pasrah, dan berharap pemerintah bisa mengambil tindakan. Pasalnya, selama ini belum pernah harga jagung naik sementara harga telur justru turun. (rl/by)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Diduga Ada Mafia di Balik Anjloknya Harga Telur

Trending Now

Iklan