Gus Baha: Semua Orang Kini Merasa Jadi Tokoh Nasional karena Arus Informasi
Gus Baha: Semua Orang Kini Merasa Jadi Tokoh Nasional karena Arus Informasi
JAKARTA, Suara Negeri — Ulama Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menilai derasnya arus informasi melalui aplikasi pesan dan media sosial membuat banyak orang merasa perlu memikirkan persoalan nasional, meski persoalan tersebut berada di luar lingkup tanggung jawab mereka sehari-hari.
Menurut Gus Baha, arus informasi yang datang tanpa henti dapat memengaruhi cara seseorang menentukan apa yang dianggap penting untuk dipikirkan.
Ia mencontohkan, seseorang yang berada di Malang dapat ikut memikirkan persoalan Jakarta hanya karena menerima informasi mengenai Jakarta melalui aplikasi pesan.
"Kalau WhatsApp-an, kita ditentukan. Mau mikir anaknya butuh apa, gara-gara WhatsApp informasi Jakarta, jadi mikir Jakarta," kata Gus Baha dalam sebuah pengajian yang ditayangkan melalui akun TikTok, pada Senin (28/9).
Ia kemudian menggambarkan bagaimana perhatian seseorang dapat berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain mengikuti informasi yang diterimanya.
"Jakarta belum selesai, ada info WhatsApp ganti mikir Sulawesi, habis itu mikir NTT," ujarnya.
Menurut Gus Baha, kondisi tersebut pada akhirnya membuat banyak orang merasa memiliki kapasitas untuk memikirkan dan memberikan gagasan mengenai persoalan negara secara keseluruhan.
"Makanya semua orang sekarang merasa tokoh nasional, gara-gara informasi yang masuk itu nasional," katanya.
Gus Baha bahkan menggunakan contoh ketua RT untuk menggambarkan fenomena tersebut. Menurut dia, seorang ketua RT memiliki tanggung jawab di lingkungan masyarakatnya, tetapi arus informasi nasional dapat membuatnya ikut memikirkan persoalan Indonesia secara luas hingga melupakan lingkup tanggung jawabnya.
"RT juga ikut mikir Indonesia, padahal RT. Sampai lupa bahwa dia itu RT," ujar Gus Baha.
Ia mengatakan persoalan tersebut berkaitan dengan bagaimana informasi yang terus-menerus masuk dapat menentukan fokus perhatian seseorang.
Gus Baha juga menjelaskan alasannya hingga kini memilih tidak menggunakan WhatsApp. Menurut dia, keputusan tersebut berkaitan dengan upayanya menjaga fokus sebagai seorang ulama.
"Makanya sampai sekarang saya enggak punya WhatsApp, karena saya memang ulama. Kalau WhatsApp-an terus kan jadi ribet dan enggak jadi ulama," katanya.
Pernyataan Gus Baha tersebut menyoroti salah satu konsekuensi dari banjir informasi di era komunikasi digital, batas antara persoalan yang menjadi tanggung jawab pribadi, lokal, dan nasional semakin mudah bercampur.
Bagi Gus Baha, kemampuan untuk menentukan informasi mana yang perlu diperhatikan menjadi penting agar seseorang tidak kehilangan fokus terhadap tanggung jawab yang berada paling dekat dengannya. (Gusti)
Baca Juga:
