Oleh : Arvi Jatmiko - Pengamat Geopolitik International
Jakarta — Dunia kembali diguncang, bukan oleh dentuman rudal, melainkan oleh manuver senyap yang berpotensi meruntuhkan dominasi finansial global. Iran disebut tengah memainkan langkah paling berani dalam lima dekade terakhir: menantang hegemoni dolar Amerika Serikat melalui strategi berbasis game theory dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai kartu tawar utama.
Dalam skenario yang kini ramai dibahas di kalangan analis geopolitik, Teheran dikabarkan hanya akan mengizinkan kapal tanker melintas jika transaksi minyak dilakukan menggunakan Yuan China. Langkah ini dinilai bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan deklarasi perang finansial yang langsung menyasar jantung kekuatan Amerika Serikat.
Kami menilai bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase baru konflik global yang jauh lebih kompleks dan berbahaya.
> “Ini bukan lagi perang konvensional. Iran memainkan strategi tingkat tinggi, mengunci jalur energi global sambil menggeser standar mata uang. Ini serangan langsung terhadap sistem Petrodollar yang sudah berdiri sejak 1970-an,” tegas Arvi kepada media, Jumat (20/3).
Selat Hormuz yang hanya selebar sekitar 21 mil kini menjelma menjadi titik paling krusial dalam peta geopolitik dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melintasi jalur ini. Ketika akses mulai “dikondisikan”, dampaknya bukan lagi regional, melainkan sistemik.
Iran tidak gegabah menutup total jalur tersebut. Sebaliknya, mereka memilih membuka akses dengan bayusyarat strategis: penggunaan Yuan.
> “Ini langkah cerdas. Iran tetap mendapatkan pemasukan, tapi sekaligus menghantam efektivitas sanksi AS. Ini yang dalam teori disebut dominant strategy,” ujarnya.
Situasi diperparah dengan mundurnya sejumlah perusahaan asuransi maritim global, yang membuat sebagian besar pelayaran komersial kehilangan perlindungan. Akibatnya, rantai pasok energi dunia mulai mengalami tekanan serius.
Dalam peta permainan ini, China muncul sebagai aktor kunci. Dengan sistem pembayaran lintas negara CIPS dan posisinya sebagai konsumen energi terbesar, Beijing dinilai siap memanfaatkan momentum.
Data menunjukkan peningkatan signifikan transaksi Yuan dalam perdagangan energi, termasuk pengiriman jutaan barel minyak Iran yang telah diselesaikan dalam mata uang tersebut.
Sebaliknya, Amerika Serikat berada dalam posisi dilematis. Washington menghadapi apa yang disebut sebagai strategic trap.
> “AS tidak bisa mengebom ‘penawaran ekonomi’. Tapi kalau dibiarkan, dominasi dolar akan terkikis. Ini dilema klasik yang sangat sulit dimenangkan,” katanya.
Lebih jauh, Kami memprediksi bahwa dunia akan segera memasuki fase bifurcated market di mana perdagangan minyak global terbagi dua: blok dolar dan blok Yuan.
> “Kita sedang menyaksikan lahirnya tatanan baru. Tidak akan ada lagi satu mata uang dominan. Dunia akan terbelah secara finansial,” ungkapnya.
Fenomena ini juga diperkuat oleh dinamika Prisoner’s Dilemma di antara negara-negara importir minyak. Dalam kondisi krisis energi, kepentingan nasional akan mengalahkan solidaritas global, mendorong banyak negara diam-diam menerima Yuan demi stabilitas ekonomi domestik.
Efek domino dari pergeseran ini diprediksi sangat besar. Dalam 12 hingga 36 bulan ke depan, nilai dolar berpotensi melemah secara struktural, sementara emas dan aset riil akan melonjak sebagai alternatif lindung nilai.
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak akan kebal dari dampak ini.
> “Ini alarm keras bagi Indonesia. Ketergantungan pada satu mata uang sangat berbahaya di tengah perang finansial seperti sekarang. Diversifikasi adalah kunci,” tegas Arvi.
Sejarah mencatat bahwa sistem moneter global selalu berevolusi dalam krisis. Dari runtuhnya standar emas hingga lahirnya Petrodollar, setiap perubahan besar selalu melahirkan tatanan baru.
Kini, dunia berada di ambang perubahan berikutnya.
> “Di 2026, pemenang bukan lagi yang punya senjata paling kuat, tapi yang bisa menentukan mata uang apa yang dipakai dunia,” pungkas Arvi.
Jika skenario ini benar-benar terjadi, maka perang terbesar abad ini bukanlah perang senjata, melainkan perang sunyi di balik layar transaksi global. Dunia sedang bergerak menuju era di mana kekuatan ditentukan bukan oleh ledakan, tetapi oleh angka-angka di sistem keuangan internasional.
Jakarta, 20 Maret 2026
Penulis adalah Ketua Umum Relawan GOPro lulusan Fisip UI



