Bambang "Pacul" Wuryanto Legenda Hidup Marhaenisme: Empat Pilar dan Geopolitik Nusantara Penjaga Masa Depan Bangsa

SuaraNegeri.com
Senin, 09 Maret 2026 | 20:00 WIB Last Updated 2026-03-09T13:00:19Z

Wonogiri– Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan harus benar-benar menjadi jiwa bangsa Indonesia, bukan sekadar materi sosialisasi atau hafalan formal dalam forum kebangsaan.

Hal tersebut disampaikan tokoh yang akrab disapa *Bambang "Pacul" Wuryanto saat memberikan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kepada masyarakat di Gedung KPRI Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Kamis (5/3/2026).

Dalam pemaparannya, Bambang Pacul menegaskan bahwa fondasi negara Indonesia berdiri di atas empat prinsip utama yaitu Pancasila sebagai ideologi negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan.

Menurutnya, empat pilar tersebut adalah kompas ideologis yang menjaga arah perjalanan bangsa di tengah dinamika politik global dan perubahan sosial yang cepat.

“Empat pilar ini bukan sekadar teks yang dihafal. Ia harus hidup dalam cara berpikir dan cara bertindak masyarakat Indonesia,” tegas Bambang Pacul.

Dalam diskursus politik nasional, Bambang Pacul juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten menjaga semangat Marhaenisme, ajaran politik kerakyatan yang digagas oleh Soekarno. Konsistensinya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat kecil membuatnya kerap dipandang sebagai legenda hidup Marhaenisme dalam praktik politik Indonesia kontemporer.

Lebih jauh, Bambang Pacul juga menyinggung pentingnya memahami budaya geopolitik Nusantara dalam menjaga keutuhan bangsa. Indonesia, kata dia, bukan hanya sebuah negara secara administratif, tetapi juga sebuah peradaban kepulauan yang dibangun oleh sejarah panjang interaksi budaya, perdagangan, dan solidaritas antarwilayah.

Dalam perspektif ini, nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan refleksi dari karakter geopolitik Nusantara yang menempatkan persatuan dalam keberagaman sebagai kekuatan utama bangsa.

“Indonesia ini dibangun oleh kesadaran geopolitik Nusantara. Kita adalah bangsa kepulauan yang sejak awal hidup dalam keberagaman, tetapi tetap satu dalam tujuan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa gagasan dasar negara lahir dari pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Dalam pidato tersebut, Soekarno mengemukakan lima prinsip dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Seiring perjalanan sejarah ketatanegaraan, konsep tersebut kemudian dirumuskan oleh MPR RI menjadi Empat Pilar Kebangsaan sebagai fondasi ideologis dan konstitusional bangsa Indonesia.

Bagi Bambang Pacul, menjaga empat pilar kebangsaan sekaligus berarti menjaga warisan budaya geopolitik Nusantara yang menempatkan persatuan, keadilan sosial, dan kedaulatan bangsa sebagai orientasi utama perjalanan Indonesia.(sang)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bambang "Pacul" Wuryanto Legenda Hidup Marhaenisme: Empat Pilar dan Geopolitik Nusantara Penjaga Masa Depan Bangsa

Trending Now

Iklan