Bayu Sasongko: Akhlak Kekuasaan Dalam Pilkada Kehilangan Makna, Jika Suara Rakyat Dicabut dari Sumber Legitimasi

SuaraNegeri.com
Jumat, 09 Januari 2026 | 10:57 WIB Last Updated 2026-01-09T03:59:43Z

SUARA NEGERI | JAKARTA — Wacana pengubahan mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada), baik langsung maupun tidak langsung, tidak boleh direduksi semata sebagai persoalan teknis elektoral. 

Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, menegaskan bahwa Pilkada menyentuh lapisan paling mendasar dari negara, legitimasi kekuasaan, kedaulatan rakyat, serta daya tahan geopolitik Indonesia sebagai peradaban Nusantara.

Bayu menilai, dalam sejarah peradaban, termasuk teladan kepemimpinan Rasulullah SAW, perubahan sosial dan politik tidak pernah lahir hanya dari desain mekanisme, melainkan dari akhlak kekuasaan, keadilan, dan keterhubungan pemimpin dengan umatnya. Karena itu, musyawarah mufakat kehilangan makna jika suara rakyat dicabut dari sumber legitimasi.

“Musyawarah mufakat bukan forum eksklusif elite. Dalam perspektif Nusantara dan Marhaenisme, musyawarah tanpa kehadiran rakyat hanyalah rapat para pemilik kuasa. Demokrasi itu pertama-tama soal akhlak kepemimpinan, bukan sekadar prosedur,” ujar Bayu, pada Jumat (09/01/2026).

Menurutnya, bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keragaman sosial serta kekayaan sumber daya alam, keterlibatan rakyat dalam memilih pemimpin daerah merupakan benteng geopolitik nasional. Ketika rakyat merasa terhubung dengan kekuasaan, negara memiliki ketahanan yang lebih kuat terhadap penetrasi oligarki, kartel ekonomi, dan kepentingan eksternal.

Dalam kerangka Marhaenisme, Bayu menekankan bahwa persoalan utama demokrasi Indonesia bukan terletak pada rakyat yang memilih, melainkan pada elite politik dan bohir modal yang membajak proses politik. Mengalihkan Pilkada ke mekanisme tertutup tanpa pembenahan elite justru berisiko memperkuat oligarki dalam balutan legalitas.

“Marhaenisme tidak memuja one man one vote sebagai kitab suci, tetapi juga menolak pencabutan hak politik rakyat. OMOV memang bukan obat mujarab. Namun mengoreksi demokrasi dengan cara memutus partisipasi rakyat adalah kesalahan ideologis sekaligus kesalahan geopolitik,” tegasnya.

Bayu juga menyinggung pengalaman Presiden Prabowo Subianto dalam kontestasi politik nasional sebagai pelajaran penting dalam demokrasi terbuka. Menurutnya, kekalahan dalam pemilu bukan aib, melainkan bagian dari dialektika pembentukan legitimasi politik.

“Dalam sistem terbuka, rakyat diberi ruang untuk belajar, menilai ulang, bahkan mengoreksi pilihannya. Kekalahan adalah bagian dari proses itu. Pemimpin yang ditempa oleh proses panjang bersama rakyat justru memiliki legitimasi lebih kuat untuk menghadapi tekanan geopolitik global,” jelas Bayu.

Ia mengingatkan, daerah-daerah kaya sumber daya alam di Nusantara akan sangat rentan jika dipimpin oleh elite yang tidak memiliki legitimasi rakyat. Dalam konteks geopolitik global, kondisi tersebut membuka celah bagi intervensi korporasi besar dan kekuatan asing yang beroperasi di balik meja kekuasaan.

“Saya sepakat OMOV bukan solusi sakti. Tetapi tantangan sesungguhnya adalah membenahi elite politik, mencerdaskan rakyat, dan menertibkan bohir. Jika akar masalahnya elite yang rusak dan uang yang liar, mengganti mekanisme tanpa membenahi aktornya hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” ujarnya.

Bayu menegaskan, perdebatan Pilkada langsung versus tidak langsung seharusnya diarahkan pada penguatan demokrasi bernilai ala Nusantara, demokrasi yang melibatkan rakyat, menjunjung musyawarah, serta menempatkan Marhaen sebagai subjek sejarah, bukan objek kekuasaan.

“Bagi Nusantara, demokrasi yang melibatkan rakyat memang berisik dan melelahkan. Tetapi demokrasi yang memutus rakyat dari kekuasaan akan jauh lebih mahal ongkos geopolitiknya,” pungkas Bayu.(gus)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bayu Sasongko: Akhlak Kekuasaan Dalam Pilkada Kehilangan Makna, Jika Suara Rakyat Dicabut dari Sumber Legitimasi

Trending Now

Iklan