Immanuel Ebenezer, Bayi, dan Nasi Goreng
Oleh: Laksamana Sukardi
Pelajaran mendasar bagi para bankir dalam menghindari risiko kredit di dunia perbankan sering dirangkum dalam sebuah metafora sederhana: “jangan kasih makan nasi goreng kepada seorang bayi.” Bayi tidak akan mampu mencerna, bahkan bisa mati.
Metafora ini mengajarkan bahwa kredit tidak boleh diberikan melebihi kapasitas usaha nasabah. Jika dipaksakan, kredit tersebut akan berubah menjadi kredit macet.
Hal serupa berlaku dalam dunia manajemen dan birokrasi. Promosi jabatan yang diberikan tidak sesuai dengan kapasitas penerimanya akan berakhir dengan kegagalan, meski orang tersebut sebelumnya sukses di posisi berbeda.
Dalam literatur manajemen, dikenal Prinsip Peter yang diperkenalkan Dr. Laurence J. Peter dalam bukunya Why Things Always Go Wrong. Prinsip ini menjelaskan bahwa banyak orang dipromosikan tanpa kompetensi memadai, sehingga berisiko menimbulkan kerugian besar.
Gambaran ekstrem dari teori tersebut adalah seorang pengendara motor yang tiba-tiba diminta menerbangkan Boeing 747. Kompetensinya jelas tidak memadai, dan akibatnya bisa fatal: ratusan penumpang celaka.
Sayangnya, dunia politik sering mengabaikan Prinsip Peter. Dalam pengangkatan pejabat tinggi negara maupun pimpinan BUMN, pertimbangan utama kerap bukan kompetensi, melainkan loyalitas dan balas budi politik.
Kasus yang menimpa Immanuel Ebenezer, Wakil Menteri Tenaga Kerja RI yang tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menjadi contoh nyata. Belum genap setahun menjabat, ia sudah melakukan kesalahan fatal yang mencoreng tata kelola pemerintahan.
Jika pola pengangkatan berbasis loyalitas dan hutang budi dijadikan standar, kasus di Kementerian Tenaga Kerja jelas bukan anomali. Sebaliknya, ia hanyalah “the tip of the iceberg” puncak gunung es dari persoalan yang jauh lebih besar.
Dengan demikian, kasus Ebenezer bukan sekadar gejala mendadak (symptom akut), melainkan tanda penyakit kronis dalam sistem politik kita. Loyalitas dan balas budi sering kali lebih dihargai ketimbang integritas dan kompetensi.
Selama pola ini terus dipertahankan, jangan heran bila kita akan terus menyaksikan banyak pelanggaran Prinsip Peter. Dan pada akhirnya, kita pun membiarkan banyak “bayi diberi makan nasi goreng.” (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar