-->
  • Jelajahi

    Copyright © SUARANEGERI.COM | Sumber Berita Terpercaya
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Halaman Depan

    Soal SKB 3 Menteri, Waketum MUI: Negara Kita Beragama, Bukan Sekuler

    Suara Negeri
    04 Februari 2021, 15:01 WIB Last Updated 2021-02-04T08:01:05Z
    Soal SKB 3 Menteri, Waketum MUI: Negara Kita Beragama, Bukan Sekuler

    SUARA NEGERI ■ Polemik Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang melarang Pemerintah Daerah (Pemda) serta sekolah negeri mengatur seragam dan atribut siswa dengan kekhususan agama tertentu terus menjadi perbincangan publik.

    Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyatakan ketidaksepakatannya atas SKB tiga menteri tersebut. Sebab, Indonesia adalah negara yang beragama, bukan sekuler.

    Atas alasan itu, katanya, perlu ditanamkan sejak dini cara berpakaian sesuai dengan nilai-nilai keagamaannya masing-masing.
    "Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini seperti dikatakan dalam pasal 29 ayat 1 adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini artinya negara kita harus menjadi negara yang religious bukan negara yang sekuler," kata Anwar Abbas dalam keterangannya yang diterima redaksi, Kamis (4/2).

    Menurut Anwar Abbas, di Indonesia itu semua UU hingga kebijakan yang dibuat oleh pemerintah maupun DPR dalam semua sektor kehidupan, termasuk dalam hal ini pendidikan harus didasarkan dan berdasarkan kepada nilai-nilai dari ajaran agama itu sendiri.

    "Oleh karena itu, dalam hal yang terkait dengan pakaian seragam anak sekolah misalnya, karena para siswa dan siswi kita tersebut masih berada dalam masa formatife atau pertumbuhan dan perkembangan," tuturnya.

    "Maka kita sebagai orang yang sudah dewasa terutama para gurunya harus mampu membimbing dan mengarahkan mereka untuk menjadi anak yang baik," imbuh dia.

    Atas dasar itu, Ketua PP Muhammadiyah ini menilai SKB tiga menteri tidak sesuai dengan landasan dasar negara.

    "Untuk itu negara atau dalam hal ini pihak sekolah bukannya membebaskan muridnya yang belum dewasa tersebut untuk memilih apakah akan memakai pakaian yang sesuai atau tidak sesuai dengan agama dan keyakinannya," tuturnya.

    "Sehingga tujuan dari sistem pendidikan nasional yang kita canangkan yaitu untuk membuat peserta didik bisa menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan seterusnya dapat tercapai," demikian Anwar Abbas.

    Pemerintah melalui tiga menteri yakni, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim; Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian; dan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan SKB tentang penggunaan pakaian seragam dan atribut di sekolah.

    Salah satu poin yang ramai diperbincangkan dalam SKB tersebut yakni soal pelarangan Pemda atau sekolah mengkhususkan atribut dan seragam dengan keagamaan tertentu.

    Berikut enam keputusan utama penggunaan pakaian seragam di sekolah negeri yang telah diputuskan oleh tiga menteri:

    Pertama, SKB 3 Menteri ini mengatur sekolah negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda).

    Kedua, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara seragam dan atribut tanpa kekhususan agama. Serta seragam dan atribut dengan kekhususan agama.

    Ketiga, Pemda dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama.

    Keempat,  Pemda dan kepala sekolah wajib mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam atribut dengan kekhususan agama paling lama 30 hari kerja sejak SKB 3 Menteri ini ditetapkan.

    Kelima, jika terjadi pelanggaran terhadap SKB 3 Menteri ini, maka saksi akan diberikan kepada pihak yang melanggar pemda bisa memberikan sanksi kepada kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan.

    Gubernur memberikan sanksi kepada bupati/walikota. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memberikan sanksi kepada gubernur. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan sanksi kepada sekolah terkait bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan pemerintah lainnya.

    Tindak lanjut atas pelanggaran akan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Sementara Kementerian Agama (Kemenag) akan melakukan pendampingan praktik agama yang moderat dan bisa memberikan pertimbangan untuk pemberian dan penghentian sanksi.

    Keenam, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan beragama Islam di Provinsi Aceh dikecualikan dari ketentuan SKB 3 Menteri ini, sesuai kekhususan Aceh berdasarkan ketentuan perundang-undangan terkait pemerintahan Aceh. (rmol)




    Komentar

    Tampilkan

    1 komentar:

    1. Jangan suka mengolah kata pak, malu... ketahuan tingkat intelijensia bapak.

      BalasHapus

    Berita Terbaru

    loading...