Jakarta — Di saat banyak negara gagap menghadapi lonjakan harga energi global, Indonesia justru memilih jalan yang lebih berdaulat: memperkuat skema subsidi silang. Bersama Pertamina, pemerintah tidak sekadar menyesuaikan harga BBM nonsubsidi, tetapi sedang membangun pagar ekonomi agar rakyat tidak ikut terbakar oleh gejolak pasar dunia.
Kenaikan harga pada Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite harus dibaca sebagai manuver strategis, bukan sekadar kebijakan administratif. Ini adalah bentuk realokasi beban: yang mampu menanggung lebih, yang rentan dilindungi. Di sinilah negara hadir, bukan sebagai penonton pasar, tapi sebagai pengendali arah.
BBM subsidi tetap berdiri kokoh. Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter. Angka ini bukan sekadar nominal, tapi simbol bahwa negara menolak tunduk pada logika pasar bebas yang brutal. Ketika harga minyak dunia menari liar, Indonesia memilih untuk menambatkannya demi stabilitas sosial.
Pengamat budaya geopolitik nusantara, Bayu Sasongko pada 18/04/2026, menilai kebijakan ini sebagai bentuk konsolidasi kedaulatan energi berbasis karakter bangsa.
“Subsidi silang bukan sekadar instrumen fiskal, tapi strategi kebudayaan. Negara sedang mengoreksi arah agar tidak sepenuhnya dikendalikan mekanisme pasar global. Ini penting dalam konteks Indonesia sebagai poros maritim dunia yang harus punya kendali atas denyut energinya sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, dalam perspektif geopolitik Nusantara, energi bukan hanya komoditas, melainkan alat kendali peradaban. Karena itu, menjaga stabilitas BBM subsidi berarti menjaga stabilitas sosial, ekonomi, sekaligus politik nasional.
Lebih jauh, stabilnya Pertamax dan Pertamax Green menunjukkan arah transisi energi yang tidak gegabah. Negara memberi pilihan, bukan paksaan, mendorong perubahan tanpa menciptakan keguncangan.
Di titik inilah, kebijakan subsidi silang menemukan relevansinya dengan arah besar Prabowo Subianto melalui visi Asta Cita: memperkuat kedaulatan ekonomi, menjaga ketahanan nasional, dan memastikan negara hadir nyata dalam melindungi rakyat. Energi tidak lagi diposisikan sebagai komoditas liar yang tunduk pada pasar global, melainkan sebagai instrumen strategis negara. Jika konsisten dijalankan, skema ini bukan hanya meredam dampak kenaikan harga dunia, tetapi juga menjadi fondasi menuju Indonesia yang berdikari, tahan guncangan, dan berdaulat penuh atas masa depannya sendiri. (*)

.jpeg)
