Korupsi Meningkat, Gereja Dinilai Gagal Jadi “Garam”
Korupsi Meningkat, Gereja Dinilai Gagal Jadi “Garam”
JAKARTA – Meningkatnya praktik korupsi di berbagai sektor dinilai tidak bisa dilepaskan dari melemahnya fungsi moral lembaga keagamaan, termasuk gereja. Hal ini disampaikan oleh tokoh pemerhati sosial-keagamaan, Fredi Moses Ulemlem, yang menyebut kondisi saat ini sebagai tanda “gereja gagal menjadi garam”.
Menurut Fredi, hubungan antara maraknya korupsi dan peran gereja bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari krisis keberanian moral. “Ketika pejabat berani mencuri uang sekolah, proyek jalan, hingga bantuan sosial, itu tanda kontrol moral melemah. Dan gereja, yang seharusnya menjadi penjaga nilai, justru banyak yang diam,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena mimbar gereja yang dinilai lebih sering diisi khotbah seputar berkat dan mukjizat, tanpa keberanian menyentuh isu dosa struktural seperti korupsi. “APBD bocor lewat proyek fiktif, tapi gereja sibuk membangun gedung megah dan menutup mata terhadap kemiskinan jemaatnya sendiri,” kata dia.
Fredi juga mengkritik relasi sebagian pemimpin rohani dengan kekuasaan. Dalam pandangannya, praktik “main mata” demi proyek dan fasilitas membuat suara kenabian gereja tumpul. “Hukum bisa dibeli, dan mimbar kadang dipakai untuk mendukung calon tertentu, bukan menyuarakan keadilan. Ini berbahaya,” tegasnya.
Mengutip Injil Matius pasal 5 ayat 13, Fredi mengingatkan bahwa garam yang tawar tidak lagi berguna selain dibuang dan diinjak. Ia menilai kondisi tersebut kini nyata terjadi.
“Pertama, gereja tidak lagi didengar karena dianggap sama busuknya dengan sistem. Bahkan muncul anggapan oknum pendeta juga ikut korupsi. Kedua, gereja tidak lagi ditakuti, koruptor tetap dilayani VIP, tetap memberi kolekte besar, bahkan diberi panggung kesaksian. Ketiga, gereja kehilangan pengaruh. Dulu 12 rasul tanpa uang bisa mengguncang Romawi, sekarang ribuan gereja dengan dana besar tidak mampu menghentikan korupsi di satu daerah,” paparnya.
Lebih jauh, ia mengurai akar persoalan yang menurutnya serupa dengan refleksi tokoh-tokoh Alkitab. Ia menyinggung kisah Simon dari Kirene sebagai simbol keberanian memikul “salib” tanggung jawab sosial.
“Banyak gereja takut kehilangan akses, takut bansos diputus atau izin dipersulit jika bersuara kritis. Ada juga ajaran kasih yang dipelintir menjadi alasan untuk diam terhadap koruptor. Padahal, Yesus Kristus tidak hanya mengasihi, tetapi juga tegas melawan praktik korup di Bait Allah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti praktik nepotisme yang disebutnya sebagai “kepemimpinan ABG: Anak, Bini, Golongan” yang terjadi tidak hanya di pemerintahan, tetapi juga dalam tubuh gereja.
Sebagai solusi, Fredi mendorong gereja kembali pada fungsi dasarnya sebagai “garam dunia”. Pertama, berani mengawetkan nilai dengan melaporkan dan menolak korupsi, bahkan jika pelakunya adalah donatur besar. Kedua, memberi rasa melalui keteladanan hidup jemaat yang jujur, bukan sekadar retorika. Ketiga, melebur dengan penderitaan rakyat, termasuk aktif dalam advokasi korban korupsi.
“Gereja harus berani ‘kotor’, turun langsung membela yang tertindas. Karena Yesus tidak disalib karena khotbahnya lembut, tetapi karena keberaniannya mengganggu sistem yang korup,” pungkasnya. (*)
Baca Juga:
